Oleh: Hindra Setya Rini*

Sebuah pertunjukan teater yang mengutamakan silent act. Mengungkap peristiwa kecil yang sering terlewatkan dari perhatian kita. Sebuah fenomena unik tentang orang-orang yang menahan hasrat buang air kecil karena harus antri. Desakan fisik yang ternyata bisa memunculkan banyak absurditas.

Children First (sebuah introduksi). Lakon pembuka tiga repertoar pendek yang digelar oleh aktor-aktor Saturday Acting Club (SAC) dalam memainkan naskah karya Samuel Beckett dengan Rossa R Rosadi, S. Sn, sebagai sutradara. Dipertunjukkan tanggal 18 April 2007 di Kedai Kebun Forum Yogyakarta.

Pertunjukan dimulai, seorang aktor hadir di tengah panggung. Ia duduk pada sebuah bangku panjang. Satu-satunya benda yang ada di tengah ruang pertunjukan. Tak lama kemudian ia mulai menggerak-gerakkan tubuhnya tanpa henti; menggeliat, gemetar, tangannya kadang mengepal dan sesekali ia merapatkan kedua kakinya rapat-rapat. Seperti menahan sesuatu. Lalu, tetap dengan tubuhnya yang bergerak itu ia membacakan judul lakon yang akan dimainkan pada malam itu beserta nama-nama pemain, sutradara, dan para pendukung pertunjukan. Setelah itu, adegan bergulir. Masuk beberapa aktor lain yang juga tak lebih sama dengan pemain pertama. Dengan caranya masing-masing menggerak-gerakkan anggota tubuhnya. Tak ada percakapan. Hanya tubuh para aktor yang saling merespons gerak. Mencoba mewujudkan aktivitas orang-orang yang layaknya sedang antri di WC Umum menunggu giliran untuk bisa segera pipis. Di akhir adegan, mereka mengeluarkan satu teriakan yang tak tertahankan karena hasrat buang air kecil sudah sampai pada puncaknya. Tak tahan lagi karena menunggu anak-anak yang harus didahulukan kemudian tanpa keharusan mengantri. Seperti yang diucapkan oleh salah satu pemain, Children First.

Children First (foto dok. SAC)

Dua lakon berikutnya setelah Children First, yaitu Come and Go dan Catasthrophe. Setiap pergantian repertoar selalu diberi jeda yang diisi dengan mendengarkan iringan musik yang mengajak penonton untuk istirahat sejenak, lalu layaknya penyiar di salah satu stasiun radio yang sedang “on air”, narator membacakan sekelumit pengantar yang menggiring penonton untuk memasuki lakon berikutnya. Suara perempuan itu mengumandang sebagai berikut (memasuki repertoar Come and Go):

Kita selalu datang dan kita selalu pergi, kita melewati peron-peron dari banyak stasiun dan kita tidak tahu apakah kita akan kembali atau kita tak pernah tahu apakah akan kembali atau takkan pernah tahu apakah akan kembali dan mengenali yang pernah kita tinggalkan. Perjalanan akan selalu membengkokkan pelintasannya untuk menemukan jalan lagi. Lintasan hati, lintasan pikiran, lintasan hidup, dan kemudian kesepian menunggu lagi di stasiun berikutnya. Ke dalam sisi manusia selalu terkorbankan oleh kebutuhan luar manusia. Kebutuhan yang dibungkus oleh warna-warna, ideologi, idialisme, dan segala tetek bengek yang bergantungan dan menjadi lambang kehormatan semu. Akankah kita akan kehilangan peron pertama yang kita lewati dengan penuh cinta?

Berbeda dengan dua lakon lainnya, Come and Go dimainkan dalam dua versi. Versi pertama dimainkan oleh tiga pemain wanita, yang kedua oleh tiga pemain laki-laki. Setting tak ada yang berubah. Hanya ada sedikit tambahan, tepat di belakang bangku  berdiri lima ikat kumpulan bambu yang menyerupai batang pepohon. Adegan  berlangsung di atas bangku, tiga aktor duduk saling mengaitkan tangan antara satu sama lain seperti tiga sahabat yang tak terpisahkan.Tak banyak percakapan; dialog terjalin sepenggal-sepenggal, diiringi musik yang sendu menambah suasana terasa ngelangut. Dalam adegan ini para aktor membicarakan satu sama lain dengan berbisik secara bergantian. Terakhir, ketiga aktor tersebut menutup adegan dengan kembali saling mengaitkan dan menggenggam tangan teman masing-masing.

Repertoar selanjutnya, Catasthrophe.  Setelah mendengarkan sebuah musik sebagai pengisi jeda, pengantar repertoar pun dibacakan kembali.

Kekuasaan selalu memainkan cakarannya di mana pun ia berada. Keringat, keluh, ketakutan, penghormatan, bunga-bunga, bahkan darah dan kematian menjadi bagian dari jejak-jejak kekuasaan. Siapa yang memainkan dengan cakaran yang terlalu dalam akan meninggalkan goresan tajam beraroma tragedi.

Panggung kosong. Bangku sudah tak ada lagi. Seseorang masuk sambil melakukan gerak olahraga atau senam pagi. Lalu satu, dua, tiga orang, masuk lalu lalang melintas membawa benda-benda; kursi, kabel, tape,  level. Dan seseorang yang lain seolah-olah sibuk mengatur para kru dalam mempersiapkan sebuah even. Musik Rock ‘n Roll menggema riang ke seluruh ruangan. Selanjutnya para kru sibuk mendandani orang yang tadi senam pagi, menjadikannya sebagai model.

Ia diberi cahaya yang pas, jas, topi, lalu kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku kanan-kiri dan ia terlihat lebih trendi. Siap dipajang. Lalu seorang lelaki yang terlihat dan bergaya lebih seperti perempuan ketimbang laki-laki, masuk menilai model yang dipajang. Melalui perdebatan dengan asistennya  yang cerewet, si Tuan tersebut tetap tak menerima dan merasa kurang puas atas pilihan-pilihan yang dikenakan pada si  Model. Ia harus diubah di sana-sini. Akhirnya para kru kembali mendandani si Model menjadi seseorang yang terlihat amat tersiksa. Seluruh tubuh diputihkan dengan bedak bubuk agar menampilkan kesan pucat, celana digulung dan singlet yang dipakaikan menunjukkan tubuhnya yang ringkih, dengan kedua tangan terikat di depan dada serta cahaya yang fokus pada kepalanya yang setengah botak semakin memperlihatkan bahwa ia renta dan tak berdaya. Tetapi menurut si Tuan, itu adalah karya yang luar biasa dan menakjubkan.

Demikianlah tiga repertoar pendek yang dimainkan SAC pada malam itu. Ruang pertunjukan dihadiri sekitar kurang dari seratus penonton dengan durasi pertunjukan satu jam. Set dan properti yang sedikit, juga tata cahaya yang minim dalam pertunjukan ini membangun kesan pada penonton atas ruang yang minimalis. Selain itu, para pemain juga memakai kostum keseharian yang sederhana dan biasa. Dalam permainan ini pemain seperti benar-benar hendak mempertaruhkan kepiawaiannya dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan melalui akting.

Seperti dalam prolog yang ditulis; sebagai bagian dari dunia teater, SAC menyadari bahwa teater tidak pernah menggoreskan tanda baca “titik”. Sehingga perkembangannya tidak bisa hanya dilewatkan dengan perdebatan karena teater juga harus dilakoni jika tidak ingin mengalami ketumpulan otak dan hati. Kejelian, kecermatan, kesabaran, keuletan, kepekaan bahkan kegilaan dalam mencari dan menyampaikan pesan akan menjadi tolak ukur bergulirnya sebuah karya teater. Untuk itu SAC akan ambil bagian dalam menciptakan sejarah pertumbuhannya. Yap. Saturday Acting Club. Semoga Teater Jogja semakin hidup!

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***


Tentang SAC

Saturday Acting Club (SAC) adalah kelompok kajian akting, yang semula bernama Saturday Acting Class. Nama Saturday diambil dari nama hari yang berarti Sabtu sebagai hari pertemuan. Club ini telah dimulai sejak tahun 2002. Club ini juga mengeksplorasi gaya akting dari berbagai -isme yang tidak terbatas. Keanggotaan SAC sendiri terdiri dari mahasiswa dan non-mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang konsen pada akting. SAC hingga kini mempunyai anggota tetap tidak kurang dari 25 orang.

Tim Kerja Pertunjukan:

Aktor: Muhamad Djunaedi Lubis, Surie Inalia, Intan, Rio Aldanto, R. Edja Fahlevi, Jamal Abdul Naseer, Daniel Exaudi, Rendra, Indah Kusuma Winahyu, Joehana Dyah N, Mariya Yulita Savi, Nanik, Mahbuh Qurtuby, Fery Ludiyanto Sopawiro, S. Sn. Sutradara: Rossa R Rossadi, S. Sn. Penata Cahaya: Noegroho/Nunu. Penata Musik: Bagus. Kostum: Indah.

Advertisements