Oleh: Muhammad A.B.*

Hari Minggu sore tanggal 3 Juni 2007 yang lalu, di Alun-Alun Utara, di tengah panas yang menyengat dan berdebu digelar pertunjukan teater boneka dengan judul “Kreteg (The Bridge)”. Pertunjukan ini menampilkan boneka-boneka berbagai ukuran, mulai dari seukuran orang dewasa hingga yang tingginya hampir 5 meter, mirip dengan ondel-ondel. Pertunjukan ini merupakan hasil dari workshop selama dua minggu yang melibatkan 36 peserta dari berbagai disiplin kesenian maupun non-kesenian.

Pertunjukan ini melibatkan Snuff Puppet, kelompok teater boneka dari Australia yang telah menggunakan bentuk pertunjukan ini di berbagai Negara Asia, Eropa, dan Amerika Latin. Di dalam website resminya, Snuff Puppet menyebut trademark yang dipertahankan di dalam karya-karya proses mereka adalah: humor-humor politik satir yang berbahaya, karya kerajinan tangan yang bebas dari nilai-nilai estetik, populis, bebas, dan mengutamakan sebuah kegembiraan seni, seniman, dan penonton. Snuff Puppets menjadi fasilitator dan inisiator dalam proses workshop sampai dengan pemanggungan. Selama workshop di Yayasan Bagong Kussudiardjo, mereka menemani para peserta workshop mulai dari menentukan konsep, membuat boneka, menentukan cerita hingga persiapan-persiapan untuk menuju ke panggung pertunjukan.

Program ini merupakan lanjutan dari program tahun lalu, yang terhenti di tengah jalan karena bencana gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah. Snuff Puppet sendiri sangat berkeinginan untuk melanjutkan program ini. Pada pertengahan Mei 2007 mereka datang kembali ke Yogyakarta untuk memulai lagi proses yang tertunda tahun lalu.

Boneka-boneka raksasa dalam pertunjukan 'Kretek (The Bridge)'

Pertunjukan teater boneka ini berjudul Kretek (The Bridge). Di awal munculnya boneka-boneka rasksasa sebelum naik ke panggung selalu menghadirkan kekaguman atau gelak tawa dari para penonton. Boneka-boneka ini sepenuhnya merupakan kreasi para peserta workshop, bentuk-bentuknya unik dan karikatural. Selama permainan di atas panggung, boneka-boneka itu digerakkan oleh para aktor yang ada di dalamnya sehingga memunculkan gestur-gestur boneka raksasa yang seringkali memancing gelak tawa . Sementara itu, dialog antar tokoh dalam pertunjukan ini disuarakan oleh seorang narator.

Kretek (The Bridge) bercerita tentang peresmian jembatan di sebuah desa di Yogyakarta yang dihadiri oleh Presiden  Petruk, dan Ibu Negara Cangik, ikut datang pula para Menteri dan penasihat Gareng, Bagong, dan Semar, dalam pewayangan mereka tergabung dalam kelompok Punakawan. .Jembatan baru yang akan diresmikan ini ternyata tidak disetujui masyarakat. Tapi para Punakawan penguasa negara tetap harus meresmikan jembatan. Sementara itu, dhemit-dhemit bermacam bentuk dan ukurannya, datang dan protes terhadap warga desa karena jembatan itu berdiri tepat di atas rumah mereka.

Para warga kebingungan, terjepit diantara keinginan para penguasa dan protes para dhemit, hingga akhinya seorang warga mempunyai ide untuk mempertemukan para punakawan dan para dhemit. Dua kelompok yang berkuasa itu harus mengadu ayam jago milik mereka. Bila salah satu ayam jago kalah, maka kelompok itu pula harus mengalah dan mengikuti keinginan kelompok yang menang. Ternyata setelah bertarung, kedua ayam jago jatuh kalah. Tak ada yang menang. Jembatan yang belum jadi diresmikan itu malah tiba-tiba meledak. Punakawan yang menanggung malu pergi meninggalkan desa itu, begitu juga para dhemit. Mereka berjanji tak akan mengganggu warga desa lagi.

Akhirnya, para warga bersuka cita dan bernyanyi bersama. Mereka menang tanpa harus mengikuti para penguasa atau para dhemit. Narator menceritakan: warga desa akhirnya  membangun jembatan di tempat yang mereka tentukan sendiri. Pertunjukan berakhir sampai disitu, para boneka turun dari panggung berfoto bersama para penonton. Anak-anak kecil yang menonton pertunjukan ini bergantian menyentuh boneka-boneka itu dan sebagian lainnya menangis ketakutan ketika boneka-boneka dhemit berada di sekitarnya.

Panggung pertunjukan ini sederhana saja, hanya sebuah panggung kosong yang diisi oleh tujuh pemain musik yang memainkan gamelan dan perkusi selama  pertunjukan. Di belakang panggung, di sepanjang tembok pembatas pohon beringin, ditempelkan kain berlukiskan sebuah jembatan besi raksasa. Di akhir pertunjukan, kain itu dijatuhkan ke tanah, menggambarkan hancurnya jembatan besi itu.

Pertunjukan ini merupakan salah satu acara untuk mendukung Festival Kesenian Yogyakarta yang berlangsung mulai 7 Juni hingga 7 Juli 2007. Pertunjukan yang merupakan kerjasama antara Yayasan Bagong Kussudiardjo dengan panitia Festival Kesenian Yogyakarta 2007, juga dihadiri oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer.

*Muhammad A.B., reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Snuff Puppet:

Ian Pidd (Sutradara), James Wilkinson (Penata Musik), Daniele Poidomani (Direktur Teknis), Andy Freer (Direktur Artistik)

Peserta Workshop People’s Puppet Project:

Linda Mayasari, Johan Didik, Wawan Dwi Santosa, B. Verry Handayani, Erwan HS, Gaung Kayan Renantya S., I Ketut Idep S., Izzu Dinil Qoim, Iwan Effendi, Maria Tri Sulistyani, Purwanta, Puthut Buchori, Suwarjiya, “Cempluk” Tri Lestari, Wibowo, Afifa, AV. Metana Yustisia, Azizah, Desi Derius P., Doni Agung Setiawan, Ikhwan Nudin, Iwan Iman Suja’I, Jhoni Freedrikus Sikant, Richi V. Rantee, Rio gisnar, Tegar Jati P., Dwi Wahyuni, Yudi Ariesmawati, Yulius Budi Wijayanto, Septi Asri Finanda, Isti Cholifah, Irnawati, dan Dhini Widyantika Ariesta.

Manajer Program: Jeannie Park Koordinator Workshop: Galuh Asti Wulandari