Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Siapa bilang Gurit yang biasa disebut puisi bahasa Jawa itu, tidak diminati kaum muda? Buktinya, pertunjukan pembacaan Gurit  pada tanggal 7 April 2007 di Gedung Societeit Militer Taman Budaya Yogyakarta, tidak hanya dihadiri oleh orang-orang tua saja, tapi banyak para muda remaja yang masih duduk di bangku SMP dan SMA menghadiri pertunjukan tersebut sampai selesai. Geguritan yang biasanya hanya dibacakan dengan gaya monoton tanpa setting dan sepi gerak,  malam itu menjadi lebih seru dan ramai.

Awal yang Sarat Makna

Saat musik menghentak membuka pertunjukan, penonton belum begitu peduli, masih ada yang baru masuk dan berseliweran mencari tempat duduk. Tak ketinggalan suara kemresek para ABG yang sedang ngerumpi. Musik mengalun pelan, lalu melantun sebuah gurit berjudul ilir-ilir dan perlahan layar terbuka.  Penonton mulai terbawa suasana, seperti berusaha menangkap sesuatu.

Manungsa punika asalipun saking Pangeran//Bali marang Pangeran//Aja dumeh! Aja dumeh! Aja dumeh!

Gurit yang singkat namun padat dan mendasar ini membuka pembacaan Geguritan Don’t Cry Mama (Anak Wengis Ibu Nangis). Tertangkap pesan moral tentang asal muasal kehidupan manusia dan peringatan akan kekuasaan manusia yang tak peduli dengan kehidupan ini. Mengingatkan bahwa manusia itu hanyalah mahkluk kecil yang tak berdaya dihadapan semesta.

Tiba-tiba muncul anak-anak yang bergulingan dan bermain-main di atas panggung. Adegan ini cukup menyegarkan dan membuat penonton tertawa cekikikan.

Ibu…. Seorang anak berteriak memanggil ibunya dan siapakah anak-anak itu? Mereka bukan sekadar mencuri fokus penonton, tapi kostum yang berwarna-warni (merah, kuning, hijau, kelabu, ungu, dan berbagai warna lain) menggambarkan kehidupan beragam. Benih kehidupan yang tumbuh dengan budaya berbeda-beda. Mereka hidup di atas tanah Ibu Pertiwi: INDONESIA.

Kemasan Muda

Pembacaan Geguritan itu bukan semata-mata dibaca di atas panggung kosong dan hanya mengandalkan kekuatan vokal. Pembacaan gurit yang ditulis oleh Akhir Luso No menjadikan sebuah tawaran bentuk pembacaan Geguritan. Setting panggung mencoba mengeksplorasi ruang, dengan menata benda-benda yang berbentuk dadu. Dari sudut pandang penonton, di sebelah kiri panggung penataan dadu terkesan seperti tumpukan tidak rapi namun tertata. Di sebelah kanan tertumpuk vertikal, lebih langsing dan beberapa tergantung di atas panggung. Pada bagian tengah ada kain membentang bergambar lingkaran putih.

Musik  mengiringi gurit yang dilantunkan para aktor dengan paduan irama berwarna. Kadang menghentak, lamban, dan lirih. Dalam pertunjukan ini aktor tidak membaca teks, tapi mengucap layaknya pemain drama dengan berbagai bentuk gerak meskipun beberapa aktor masih tampak kaku dalam olah tubuh. Gurit diucapkan dengan nada dan tempo bervariasi. Ada yang dibaca cepat, lantang, lembut, marah dengan sambil berjoget semi nge-rap dan jumpalitan. Adegan menjadi kesatuan dalam pementasan dengan kemasan muda. Berusaha mengikuti selera anak muda. Pertunjukan ini dirangkai oleh Hari Leo AR dan Akhir Luso No.

Sebuah Akhir yang Sunyi

Robohnya dekorasi, teriakan perempuan yang diperkosa anaknya dan taburan “hujan” dari atas panggung seperti menyiratkan air mata Ibu Pertiwi. Adalah babagan akhir yang terlihat ramai namun terasa sunyi. Kesunyian memasuki ruang perenungan akan keadaan yang sedang menimpa negeri ini, yang kaya tapi masyarakatnya bermental miskin, penjilat dan tak dapat berpikir sehat (gerah uteg). Negeri yang larut dalam praktik penindasan bertumpuk-tumpuk.

Pertunjukan ini didukung oleh Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya (PPPG Kesenian Yogyakarta).

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Tim Kerja:

Penulis naskah: Akhir Luso No, Sutradara: Hari Leo Aer dan Akhir Luso No, Artistik: Wahyana Giri MC, Pemain: Nita, Nurul, Dinar, Andi “Pepok” dan Titi Renggani, Lighting: Edo Nurcahyo, Musik: Kartiman MS, Tim kreatif: Ki Parjaya SSn, Purwadmadi Admadipurwa dan Eny Esita  Kolopaking.

Komentar Penonton:

“Absurd yang konvensional, tema-tema yang dibawakan sudah biasa…”(Hasta Indriana, Penyair muda, 30 tahun)

“Bagus bagus bagus…terus apa ya itu. karakter tokohnya baguslah pokoknya.” (Tiwi, SMA Kalasan, 17 tahun)

“Emm…yang jelas bagus banget, rangkaian pesannya untuk kita agar bisa mencintai ibu pertiwi ini.” (Anis, Mahasiswi UNY semester 8 jurusan seni kerajinan)

“Biasa aja ha..ha..ha..” (Cesa, kelas 8 SMP 5 Yogyakarta, 14 tahun)

“Ee, yaa lumayan bagus, keren kok. Unik ya tadi aku lihat tariannya modern tapi pakai gamelan jadi langka banget kalau menurutku.” (Manda kelas 2 SMP 5 YK, 14 tahun)

“Ya keren..keren keren…dari blokingnya juga lumayan teratur.” (Sandy, Mahasiswa UAD)

“Bagus banget apalagi…musiknya tuh keren, terus gerakannya juga keren!” (Ayuk, Ami, Tiwi, kelas 8 SMP 5 Yogyakarta)

“Wah tapi bahasa Jawa ya? jadi aku gak ngerti. Kerennya adegannya.” (Riko, ISI jurusan musik semester 6)

“Sae. Ya itulah apa namanya..kalau saya bilang memang situasi sekarang, buat seorang ibu itu berat untuk membesarkan anak-anaknya dengan lingkungan dan pengaruh-pengaruh dari luar. Bagus cara penyampaiannya dengan cara begini.” (Ibu Feri dari Jakarta, 50 tahun diajak suaminya yang sedang liburan di Jogja)

“Mungkin yang menjadi menarik bagi saya adalah pertanyaan: sejauh mana ekstrimnya itu? Ekstrimitas itu kan ada beberapa tingkatan, artinya ekstrim menurut siapa dan ekstrim yang bagaimana? Ekstrim bagi si A belum tentu ekstrim bagi si B apalagi C. Apalagi C!” (Catur Stanis, 30 tahunan lebih)

“Ya baguslah, menarik aja, koreonya dan gerak-geraknya” (Tia, kelas 1 SMKI Yogyakarta Jurusan Teater, 15 tahun)