Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Aduh, benarkah sebegitu bencinya orang-orang ini kepada orang Tionghoa? Saya memang keturunan Tionghoa, tapi apa salah saya dengan lahir sebagai orang Tionghoa? Saya orang Indonesia.

Begitulah kata Clara, seorang perempuan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa, korban kekerasan tragedi Mei ’98 di Jakarta. Sebuah peristiwa yang menjadi catatan penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Bangsa yang mengedepankan nilai kebhinekaan dan kemanusian dalam kehidupan sosial masyarakatnya.

Berkaca pada sejarah kadang seperti melihat wajah yang penuh luka. Begitu juga dengan Indonesia, banyak tragedi berdarah dalam perjalanan hidupnya. Menjadi rentetan peristiwa yang menghantui ingatan. Tapi cukupkah semua itu sekadar menjadi kenangan? Ah, terlalu banyak pelajaran yang harus kita petik untuk dipelajari dan telusuri, agar tak lagi terpelosok dalam tindakan barbar tak berprikemanusiaan.

Pementasan drama Clara diselenggarakan oleh mahasiswa kampus Ministry Universitas Atmajaya (UAJY), pada tanggal 2 Mei 2007 di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta. Karya Seno Gumira Ajidarma tersebut dikemas dalam koreografi gerak, teater, ansambel musik dan video yang berpadu dalam peristiwa pementasan. Ansambel musik berada di pojok panggung dan ruang permainan berada di tengah dengan latar bergambar kota metropolis. Dua aktor lelaki dan perempuan mendominasi permainan, sedang gerak dan gambar video sebagai penguat dan pewarna suasana cerita.

Clara adalah perempuan pengusaha yang sedang memperjuangkan pegawainya dari PHK. Gadis periang, ulet, cerdas, dan sigap itu telah dibunuh karakter kemanusiaannya secara keji dan bebal. Ia seperti onggokan sampah setelah orang-orang berwajah garang mencegat dan memperkosanya dijalan. Meski demikian, ia beranikan diri datang melapor ke kantor “petugas”, tapi naas, laporannya hanya diremehkan dan dibantah. Sebab, “petugas” itu adalah bagian dari sistem kekerasan yang  mewarnai kota Jakarta.

Suasana pertunjukan di atas panggung menjadi sebuah irama kolaborasi yang tertata. Penggarapan musik dan lagu mengalun rapi di sela permainan aktor, gambar video semakin memperdalam esensi cerita. Clara yang diperankan Monique Kartika W, berusaha memaksimalkan aktingnya dalam posisi duduk dan Hendra yang memerankan Lelaki Berseragam tampak energik dengan aktingnya yang bergaya lawas penuh penekanan. Sedangkan koreografi gerak menjelang akhir masih terlihat kurang tergarap pada gerak rampak dan (bentuk) tubuh pemain.

Tragedi Clara yang disutradarai oleh FX Tri Mulyono, telah membuka wacana bagi generasi muda tentang  nukilan sejarah kelam di Indonesia. Sebuah tragedi kemanusiaan saat mulai santernya kata reformasi disuarakan, menuntut perubahan dan tumbangnya rezim Suharto. Ironis  memang, jika etnis Tionghoa selalu menjadi kambing hitam penyebab kesenjangan ekonomi dalam sistem kekuasaan pemerintah yang korup dan bobrok. Tapi mengapa Clara yang menjadi korban? Ia diperolok dan diperkosa beramai-ramai. Tindak kekejaman semacam itu bukan semata-mata karena rasisme atau kesenjangan ekonomi, tapi ada sudut pandang lain yang menjurus pada kekuasaan dan gender. Hal tersebut masih menjadi perbincangan banyak kalangan. Dalam peristiwa ini aparat dan hukum seperti orang linglung di tengah kota besar nan modern. Akan lebih ironis lagi, jika tragedi kemanusiaan hanya dipahami kelas masyarakat tertentu saja, sementara yang lain dibiarkan tak mengerti dan mudah terprovokasi keadaan. Nah, ini menjadi tugas generasi muda tentunya!

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Tim kerja pertunjukan:

Pimpro: Reynold Lumi, Sutradara: F.X. Tri Mulyono, Aktor: Monique Kartika W., Hendra dan Otho Sebastian, Kostum: Wahyu April Wulandari, Make-Up: Nilam Nu Raya, Dekorasi: Yohanes Fisher, Lighting: Dian Widi N., Koreografer: Sudiarto, Music Ensambel: Yudi Red’s Studio, Paduan Suara: Cristine M dan PSM UAJY.

Komentar Penonton:

“Secara umum bagus, musik, koreografi, koor, videonya  bagus. Isi cerita persis sama dengan yang ditulis Seno. Tapi mungkin satu hal perlu dekat lagi (dari isi cerita) karena ini sudah sembilan tahun mungkin perlu ditambah lalu dari situ kita bisa apa? “ (Cris, Mahasiswa Sanata Drama, Jurusan Teology semester delapan)

“Bagus  (tapi isinya gak seneng, sela seorang ibu disampingnya) penghayatannya dalam bermain, terutama Clara ya, karena memang pusatnya di Clara sehingga mempengaruhi penonton. Jadi penonton bisa menghayati dan sungguh-sungguh melihat penderitaan perempuan. Dan dengan cerita ini sebenarnya perempuan itu bukan diperlakukan seperti itu . Justru kalau kita mengenal perempuan itu adalah hidup. Gak ada perempuan di bumi ini gak ada kehidupan. Makanya bumi ini namanya bumi pertiwi khan? Karena memberi hidup!” (Suster Ines, 37 tahun dari Ordo Putri Kasih)

“Sebenarnya aku agak kecewa, soalnya ceritanya kurang panjang, kalau untuk setting bagus, penjiwaan ok. Cuman dari teater-teater yang aku tonton sebelumnya, cerita klimaksnya kelihatan, konfliknya bagus. Kalau yang ini standar aja sih, nggak kelihatan. Tapi penjiwaannya bagus. “ (Hai, SMA Bobkri dua, kelas tiga, 17 Tahun)

“Apik, bagus cukup memuaskan. Cuma mungkin, karena aku terlalu banyak hidup di dalam cerita yang mainstream jadi ya rasane bosen wae, dengan penciptaan model seperti itu. Mentok banget, jadi mungkin bisa eksplorasi lagi. “ (Bayu Prihantoro -Lemot- Mahasiswa UAJY, Jurusan Komunikasi, 22 Tahun)

“Aktingnya kurang begitu mengena karena apa ya…? Kemarin saya sempet dialog dengan aktornya, ternyata ada pembatasan mengenai tawaran-tawaran akting. Ternyata mereka tidak ada ruang untuk mengaktualisasikan kemampuan akting mereka. Jadi sangat dibatasi sekali nah itu makanya ada beberapa akting yang semestinya sukses tapi kadang pesan moral yang ingin disampaikan jadi samar, karena penghayatan teks itu penting. Nah, ketika teks itu tak dipahami secara betul maka tubuh pun tidak bisa mengungkapkan secara betul.” (Ilyas Weda alias Kirun, jebolan ISI, Pelatih teater STIE YKPN, 28 tahun)

“Bagus. Kepala saya sampai pusing menikmatinya. Bagus, kenapa gak dibuat 2-3 kali kan orang lain perlu tahu, ini kayaknya terbatas ya?” (Ibu Yopie, Ibu Rumah tangga dan tukang ojek anaknya, 39 tahun)

E….bagus sih sebenarnya, untuk saya sendiri kurang lebih greget lagi, sebenarnya agak nanggung juga sih, jadi orang kepengin nangis tapi belum sempat ke titik klimaks dah drop lagi, tapi keseluruhan panggungnya dah bagus kok.” (katanya nama gak perlu, Mahasiswi UAJY jurusan Fisip semester 2)

“Dah bagus cuman, kayaknya tadi kurang ada greget.” (Agung, Mahasiswa UAJY Jurusan Arsitektur Semester delapan)