Oleh: Muhammad A.B. *

Siang, tanggal 24 Mei 2006, skAnA bertandang ke kantor Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Di sana awak skAnA bertemu dengan Rukman Rosadi, salah seorang staf pengajar di Jurusan Teater ISI, yang juga salah seorang motor dari sebuah klub yang baru saja diluncurkan di Yogyakarta. Klub itu bernama Saturday Acting Club (SAC), yang mengkhususkan diri dalam pengemabangan akting. Dalam kesempatan wawancara ini skAnA juga berkesempatan untuk berbincang dengan Muhammad Junaedi Lubis (Manajer Program SAC) yang akrab dipanggil Ucok, dan Surie Inalia (Head of  Management SAC) atau akrab dipanggil Cuwie’. Selama kurang lebih dua jam kami berbincang dengan ditemani es teh dan beberapa bungkus rokok. Berikut adalah petikan wawancara skAnA dengan ketiga tokoh SAC tersebut.

Bisa cerita sedikit tentang asal mula SAC?

Rosa:

Sebenarnya sudah lama. Sebagian diantara kami sudah berkumpul dan bertemu sejak 2002. Waktu itu wadahnya bernama Saturday Acting Class, waktu itu kami dan beberapa teman yang ingin belajar tentang akting lebih dalam, membentuk wadah sendiri di luar jurusan teater. Saat itu kami sudah terbuka, kami tidak mengkhususkan diri pada orang-orang teater saja. Siapa saja yang ingin belajar akting; ada teman dari jurusan desain, ada teman dari Atamajaya, dan Psikologi UGM.

Ucok:

Yah, sebenarnya kami sudah lama berkumpul. Kami punya kegelisahan dan keinginan untuk belajar lebih dalam mengenai akting, mungkin kami merasa kurang dengan apa yang sudah kami pelajari mengenai teater dan akting. Cuma waktu itu memang kami lebih banyak mempelajari berbagai pendekatan yang banyak dibantu oleh Mas Rosa (Rukman Rosadi, pen)

Cuwie’:

Sebenarnya saya dulu malah tidak tahu ada Saturday Acting Class, walaupun saya di Jurusan Teater ISI. Saya malah usul sama teman-teman, “Ayo bikin apa yuk, kumpul-kumpul belajar teater bareng…” Eh, ternyata malah sudah ada Saturday Acting Class, terus saya mulai masuk ketika perencanaan untuk membuat Saturday Acting Club.

Saturday Acting Club. Namanya agak berbeda dengan nama-nama kelompok teater yang biasa saya dengar, sepertinya SAC mewakili semangat yang berbeda dari kelompok-kelompok teater lain?

Rosa:

Gimana ya, kami sejak awal memang menitikberatkan pada pembelajaran akting, untuk belajar berbagai bentuk akting. Dan karena kita memang sama-sama punya waktu luang di hari Sabtu, walaupun sebenarnya berkumpul di Hari Sabtu sudah menjadi kewajiban bagi kami (tertawa….). Kalau ada kesibukan lain harus ditinggal (tertawa lagi…).

Kenapa memilih club? Bukan course misalnya…

Cuwie’:

Karena dulu class itu kesannya formal ya, dan jadi kelihatan sangat akademik. Kemudian kami bersepakat untuk mengganti menjadi club, karena ia menjadi lebih terbuka, dan posisi kita semua menjadi sama di dalam wadah club. Saya dan Mas Rosa misalnya. Ya saya boleh berbeda pendapat dan mengusulkan sesuatu pada dia. Walaupun tetap dibutuhkan pengurus yang aktif, ada struktur kekuasaan yang menentukan program-program SAC.

Ucok:

Dulu waktu class, Mas Rosa memang jadi agak dominan. Sementara kalau di club, kami kesannya jadi cair gitu. dia sudah tidak kami anggap sebagai dosen lagi(tertawa). Kami posisinya sama saja, saling memberi pendapat dan memberi usulan, misalnya dalam proses pengadeganan. Juga Mas Rosa sebagai sutradara misalnya, ia tidak bisa seenaknya memerintah, “Kamu kaya gini, jalan kesana…”, kalau seperti itu pasti ditanya balik, “loh, kenapa? Apa alasannya..?”(tertawa)

Dan kenapa acting? Bukan actor atau theatre misalnya…..

Ucok:

Karena memang kami memang fokus ke bagaimana akting itu. Kami ingin mencoba segala macam bentuk akting, menembus batasan-batasan akting yang ada sekarang; mencoba mengeksplorasi bentuk, gagasan, ide,  sampai pada kemungkinan-kemungkinan yang bisa kami capai. Yang kami tekankan memang bagaimana ber-akting itu. Kami percaya tiap karakter punya konsekuensinya sendiri untuk diperankan, dan tiap aktor harus mempunyai kesadaran untuk itu. Karena saya melihat aktor-aktor yang gaya dan bentuknya sama dalam tiap karakter yang diperankannya. Lah, itu kan berarti dia tidak ber-akting. Berarti kan, dia hanya memindahkan dirinya sendiri ke atas panggung. Cuma sekedar memakai kostum dan mengucapkan apa yang tertulis.

Rosa:

Di sini (SAC-pen), kami semua punya komitmen untuk mempelajari akting seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bagi kami di SAC, akting berarti Akting dengan A kapital. Walaupun tidak semua yang terlibat di sini (SAC-pen) aktor, kami terbuka pada siapa saja yang ingin belajar akting. Karena menurut kami dunia akting itu sangat luas sekali. Dan bagi kami SAC adalah wadah untuk menjelajahi dunia itu. Untuk itu SAC tidak memilih satu gaya pertunjukan sendiri yang tetap, kami ingin bisa berakting dalam bentuk pertunjukan apa saja, baik yang tradisional maupun kontemporer.

Cuwie’:

Dan kami juga sebenarnya tidak hanya berkutat dengan akting di dalam teater, kami juga mencoba bagaimana toh akting di dalam film itu? SAC juga tidak menutup kemungkinan nanti ke depannya akan membuka kursus akting untuk umum.

Pada kesempatan launching bulan lalu (bulan April 2007-pen) SAC memilih untuk memanggungkan tiga naskah pendek karya Samuel Beckett. Ada alasan khusus nggak, kenapa teman-teman memilih naskah Beckett?

Rosa:

Sebenarnya tak ada alasan khusus ya. Karena kami tidak mau terikat pada satu genre tertentu. Lebih karena saat ini SAC ingin memainkan naskah-naskah pendek dengan durasi kurang dari satu jam, dan Beckett punya jenis naskah pendek itu. Ya, waktu itu kami bersepakat untuk memainkan tiga naskah itu.

Ucok:

Semua orang di SAC mempunyai obsesi tentang keaktoran. Biasanya mereka ingin bermain dalam satu peran tertentu, misalnya peran orang sakit jiwa, atau peran pembunuh, atau peran romantis. Dalam kasus kemarin, mungkin kami melihat naskah Beckett cukup mewadahi keinginan-keinginan kami untuk memerankan satu karakter tertentu. Dan seperti yang tadi sudah dikatakan, ya kami selalu menggunakan kesempatan pertunjukan ini dengan mencoba untuk bertemu dengan sesuatu yang berbeda. Bagaimana sih naskahnya Beckett? Karena pasti berbeda memainkan naskah Beckett dengan memainkan naskah lain oleh penulis lain. Ya bagi saya seperti itu sih. Sepertinya waktu itu memang tidak ada alasan khusus ya.

SAC dalam sebuah pertunjukan.

Oke, menurut teman-teman sendiri, apa sih yang membedakan SAC dengan kelompok-kelompok lain? Paling tidak apa yang membuatnya beda?

Cuwie’:

Formulasi ilmu…

Maksudnya?

Cuwie’:

Ya karena bagi kami bukan hanya akting di atas panggung yang penting. Tapi, bagaimana jalan yang ditempuh untuk menuju akting di atas panggung itu…

Rosa:

Maksud Cuwie’ adalah bagi kami proses untuk menuju akting di atas panggung itu jauh lebih penting. Bagaimana proses penemuan, metode-metode yang ditempuh untuk mencapai suatu karakter. Mungkin itu yang membuat kami merasa perlu mendalami akting lebih jauh lagi, karena makin jauh kami memasukinya, ternyata hal ini  sangat luar biasa luas. Menurut kami metode seorang aktor untuk mencapai sebuah bentuk akting itu adalah satu bentuk ilmu juga, dan si aktor harus bisa memformulasikannya.

Ucok:

Ya semangat itu yang kami pegang di SAC. Karena percuma saja kalau seorang aktor bisa berakting dengan bagus diatas panggung tanpa tahu metode-metode untuk mencapai bentuk akting itu. Sayangnya kami melihat hal ini tak begitu disadari, sehingga banyak aktor yang hanya bisa memainkan satu tipe karakter saja. Bagi kami ya hal ini sama saja berarti si aktor belum lepas dari dirinya sendiri.

Rosa:

Karena di sini orang-orang teater sendiri masih menganggap aktor atau akting itu berdasarkan hal-hal yang abstrak. Mereka tak bisa memformulasikannya, hanya berhenti di “teater ya begini ini….” Karena itu saya melihat banyak kelompok pada akhirnya hanya tergantung pada sosok sutradara. Sutradara menjadi sosok yang mengetahui segalanya dan ia tak membaginya pada orang lain. Karena tak ada kesadaran bahwa akting adalah satu bentuk ilmu yang bisa dipelajari semua orang. Jadi yang sering terjadi, ketika sutradara meninggalkan sebuah kelompok teater, maka kelompok teater itu akan mati.

Jadi akting itu bisa dipelajari, lalu bagaimana teman-teman mempelajarinya? Punya metode-metode tertentu yang baku bagi para aktor di SAC ?

Rosa:

Karena para anggota SAC mepunyai komitmen untuk mempelajari akting, maka cara mereka untuk mempelajari akting berbeda-beda sebenarnya. Tapi semua punya kecenderungan untuk mencari referensi-referensi sendiri. Jadi memang aktor-aktornya itu dituntut untuk pintar dan cerdas. Tapi bukan berarti kami tidak memperhitungkan improvisasi atau ekplorasi, itu kami jaga karena itu bagian dari metode untuk mencapai bentuk akting.  Lewat forum-forum di SAC kami berdiskusi soal akting, dan seringkali malah anggota SAC dari disiplin berbeda memberi masukan-masukan yang segar dan berharga.

Lalu kami juga mencoba untuk mengeksplorasi diri kami sendiri; bagaimana seorang aktor bermain dalam karakter yang berbeda-beda, lalu teman-teman akan memberi masukan-masukan dan membicarakannya bersama. Lewat forum itu SAC membantu para aktor anggotanya untuk memformulasikan metode-metode yang telah dicapainya.

Ngomong-ngomong, apa sih program SAC selanjutnya ?

Ucok:

Bulan Juni nanti kami akan pentas di KKF, kami mencoba eksplorasi akting dalam bentuk-bentuk pertunjukan tradisional. Pertunjukannya tiga buah seperti pada saat launching. Saat ini kami sedang berkonsentrasi pada pertunjukan-pertunjukan pendek saja dulu. Lalu Bulan September rencananya kami akan pentas di KKF lagi. Naskah pendek juga, tapi kali ini naskah yang kami buat sendiri. Terus Februari tahun depan rencananya kami akan memproduksi sebuah film.

Cuwie’:

Selain itu kami juga punya agenda rutin di luar pertunjukan, misalnya pertemuan tiap Sabtu yang wajib untuk semua anggota. Terkadang ada workshop-workshop untuk anggota. Kami juga memberikan workshop-workshop mengenai akting. Kemarin (minggu ketiga Mei-pen) kami baru saja memberi workshop akting pada anak-anak SMP di ISI. Para anggota punya kewajiban untuk memberikan materi-materi pada saat workshop itu. Yang paling akhir ya penerimaan anggota. Kemarin kami baru saja menerima dan menyeleksi anggota baru untuk SAC, yang diterima ada 11 orang.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul empat sore, gelas-gelas es teh yang tadi penuh sudah kosong. Siang itu memang sangat panas. Tapi berbincang dengan tiga orang awak SAC membuat siang itu terasa berlalu dengan cepat. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin dibicarakan dengan SAC, misalnya tentang rencana-rencana pertunjukan mereka, tentang film yang akan mereka buat, atau ide mereka tentang akting. Akhirnya, waktu jualah yang membatasi pertemuan kami. Saat masing-masing dari kami harus beranjak dan bergerak meninggalkan tempat di mana kami bertemu. Sukses buat SAC!!!

*Muhammad A.B., reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)