Oleh: Hindra Setya Rini *

Tepatnya hari Jumat, 2 Februari 2007, pukul delapan malam, dua awak skAnA bertandang ke Pendopo Teater Garasi untuk bertemu dengan peserta Actor Studio. Sebelumnya, pada tanggal 30 Januari 2007, mereka juga telah mengadakan acara ‘sum-suman’, yaitu semacam ritual yang dilakukan setelah pementasan peserta Actor Studio, sekaligus penutupan proses panjang yang telah mereka jalani selama 6 bulan itu.

Percakapan yang kami lakukan di salah satu ruangan kecil di Teater Garasi itu cukup riuh dengan celoteh ceria para peserta Actor Studio tersebut. Memang terkesan seperti malam pelepasan dan mereka sedang berbahagia. Meski tidak semua peserta bisa hadir pada pertemuan itu, tapi tak sedikit pun mengurangi semangat para aktor-aktor muda yang lain untuk berbagi.

Latar belakang atau alasan teman-teman mengikuti Actor Studio?

Kimung:

Saya tertarik, dalam hal ini mempelajari keaktoran. Saya suka teater, jadi saya ingin belajar tentang keaktoran.

Nugie:

Karena keterbatasan referensi di tempatku tentang keaktoran, jadi aku berinisiatif untuk datang ke sini untuk mempelajari keaktoran.

Iskandar:

Aku merasa dulu itu belajarnya tanpa sistem pengetahuan yang jadi. Kemudian aku ingin belajar ilmu keaktoran itu dengan tepat. Makanya, aku belajar di Actor Studio yang diharapkan bisa jadi modalku untuk proses selanjutnya.

Guntur:

Aku butuh referensi keaktoran sehingga aku bisa menguji seberapa jauh kemampuan keaktoranku dan seberapa mampu aku menyerap hal-hal baru dalam keaktoran itu sendiri.

Alex:

Fasilitas yang lebih memadai dan yang aku inginkan.

Antok:

Karena aku pecinta seni peran.

Qomar:

Karena aku ingin tahu yang lebih jelas aja dari keaktoran itu seperti apa, dan ini karena yang ngadain Teater Garasi, yang menurutku kelompok teater yang sudah bisa memformulasikan pengetahuan mereka.

Sutris:

Waktu yang 6 bulan itu yang membuatku tertarik. Karena dengan waktu 6 bulan itu aku pikir banyak referensi keaktoran yang bisa aku dapatkan.

Lalu apa yang teman-teman dapatkan dari Actor Studio?

Alex:

Hal-hal yang sistematis dan target.

Guntur:

Kesadaran tentang kebutuhan ilmu keaktoran secara sistematis dan terstruktur.

Iskandar:

Pengalaman mengalami banyak proses dan bisa teramati.

Antok:

Disiplin pengetahuan yang sistematis.

Nugie:

Terbuka bahwa keaktoran itu banyak sekali hal yang belum saya pelajari.

Sutris:

Sistematis sama training.

Qomar:

Lebih tahu mengatasi kesulitan dalam diri sendiri kaitannya dengan keaktoran.

Kimung:

Disiplin keaktoran dan sistematis dalam latihan dan materinya.

Bisa cerita sedikit prosesnya; kesan; apa yang menyenangkan, atau yang tidak menyenangkan buat teman-teman selama studi ini, misalnya?

Antok:

Wah, mendak! Aku nggak suka, sakit semua pahanya. Kalau yang menyenangkan buatku itu momen tahap 3, yaitu pementasan ansambel. Di situ, satu bagian hidupku menjadi kaya pengalaman batin. (Mendak adalah salah satu bentuk gestur tubuh yang dilatihkan kepada peserta dalam sesi training, pen)

Nugie:

Tayungan dan Ageman, sakit semua badanku. Yang paling kusukai adalah sesinya Mas Lono (workshop ansos), Mas Landung (training pelisanan), dan Mas Wawan (workshop monolog). Karena, meski sebentar tapi efektif banget. (Tayungan itu salah satu dasar tari Jawa, dan Ageman dasar tari Bali, yang dilatihkan kepada peserta dalam sesi training, pen)

Qomar:

Aku nggak suka mendak. Aku paling tinggi sendiri jadi kelihatan kalau nggak rendah, hehe… Tapi yang paling aku senengi adalah workshop 3: Interaksi dan Mas Landung (training pelisanan, pen). Pentas juga menyenangkan.

Sutris:

Psikologi. Itu menyebalkan. Bukan psikolognya, tapi metodenya. Kalau yang aku suka itu Ageman, sama pelisanannya Mas Landung.

Kimung:

Kalau aku waktu gulingan itu, sulit karena postur tubuh saya yang gendut ini. Yang menyenangkan adalah waktu ansos (analisis sosial, pen) itu, kita observasi ke pasar dan mall.

Alex:

Aku paling takut gulingan! Karena aku trauma lantai! Yang menyenangkan tuh pentas, karena aku nggak pusing mikirin biaya pentas!

Iskandar:

Yang nggak menyenangkan buatku jatuhan belakang, karena takut terbentur kepalanya. Kalau yang suka itu sesinya Mas Ogleng (Yudi Ahmad Tajudin, salah satu fasilitator Actor Studio, pen). Kemudian pementasan monolog dan pementasan ansambel yang hari ke dua, karena rileks.

Guntur:

Untuk yang tidak menyenangkan, saya pass ya… Tapi yang menyenangkan adalah sesinya Ogleng (Yudi Ahmad Tajudin, red), karena membuat kita kritis dengan perangkat keaktoran kita dan membuat kita terangsang untuk menemukan warna atau karakter kesenian kita sendiri.

Fasilitatornya sendiri, gimana, menurut teman-teman?

Antok:

Oke-oke, nggak ada masalah. (teman-teman yang lain menyepakati apa yang dikatakan oleh Antok, yang notabene adalah ketua kelas di Actor Studio ini.)

Ada tidak perbedaannya, sebelum dan setelah mengikuti Actor Studio?

Kimung:

Ya, terus terang beda, ya dalam hal ini Kimung yang sebelum mengikuti Actor Studio dan sesudahnya ya tentu saja beda. Terutama dalam pengalaman saya mendapatkan sesuatu dari Actor Studio.

Qomar:

Lebih tahu apa yang sedang dihadapi dan bagaimana cara menghadapinya, sekarang.

Sutris:

Tambahan referensi metode latihan keaktoran dan sedikit menejemen pentas.

Alex:

Peningkatan dari segi teori.

Guntur:

Aku semakin kukuh dalam mempelajari dan memperdalam disiplin keaktoran.

Iskandar:

Lebih santai di prosesnya.

Antok:

Alasan. Di Actor Studio, alasan itu adalah satu hal yang sangat penting. Artinya, untuk melangkah atau bergerak, entah di pementasan dan di kehidupan sehari-hari jadi lebih tahu dan mencari tahu alasannya.

Nugie:

Aku lebih bisa mengukuhkan diri bahwa pilihanku di keaktoran.

Oke, harapan untuk Actor Studio ke depan?

Nugie:

Actor Studio bisa terus berlanjut, dan harapanku bisa lebih baik dan matang dari sekarang. Dan untuk diriku sendiri: kuliah!

Iskandar:

Kurikulum yang sudah dikasih Actor Studio, itu aja yang dipakai. Maksudku, semua yang ada di Actor Studio itu ya dijalankan sesuai planningnya.

Kimung:

Actor Studio ya berlanjut teruslah…, jadi nanti dunia teater itu memasyarakat.

Sutris:

Memasyarakat tuh, gimana?

Kimung:

Mmm…, biar nggak eksklusif, ya di masyarakat itu nggak aneh. Kalau dari saya sendiri sih setelah mengikuti Actor Studio, saya akan menularkan ilmu saya kepada yang lain. Kalau yang saya tularkan itu mau lho. (Geer…, kami kembali terbahak. Suasana begitu riuh, karena masing-masing saling menimpali, meledek, dan mencandai temannya yang sedang memberikan pendapatnya)

Sutris:

Huu… Itu bukan teaternya yang aneh. Orang-orangnya aja yang aneh. Seniman-seniman yang bikin teater jadi terlihat aneh itu. (Ups, ada yang langsung protes! Mereka membangun diskusi mereka sendiri, dan menyenangkan melihat teman-teman Actor Studio bercengkerama)

Guntur:

Untuk materi analisis sosial ditambah. Karena, saya berharap seniman-seniman muda lebih berdimensi sosial. Menurut saya itu penting sekali karena karya-karya yang dihasilkan mudah-mudahan bisa berdampak sosial juga.

Qomar:

Bisa melebihi yang sekaranglah. Bisa menghasilkan orang-orang yang menjadi lebih mengerti tentang teater.

Sutris:

Kalau aku sih, bisa menarik masa sebanyak-banyaknya biar bisa di seleksi. Kalau yang diterima 6 peserta, tapi  gimana caranya yang daftar 20an, gitu.

Pertanyaan terakhir, kesan teman-teman selama studi keaktoran di Actor Studio 2006 (periode pertama), ini?

Antok:

I love very much…! The best f**kin’ moment!

Alex:

Amazing…!

Kimung:

Sae…(bagus, pen)

Guntur:

Merangsang, membuat saya bergairah.

Nugie:

Aku lebih terbuka terhadap keaktoran.

Qomar:

Wonderfull.

Iskandar:

Very surprise…!


***

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

Advertisements