Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Tanggal 8-9 Desember 2006 Bengkel Pantomim memanggungkan SUPER YANTO (Sometimes Everything is Wrong) di Kedai Kebun Forum. Masih setia dengan gaya pantomim tak baku-nya, kali ini Bengkel Pantomim memainkan satu repertoar yang lebih panjang dari 3 reportoar pendek yang sebelumnya mereka mainkan.

Panggung pertunjukan di lantai dua KKF berisi sebuah sepatu sneakers warna hitam raksasa, globe dan miniatur tata surya yang juga berukuran besar. Sepertinya penggung menjadi sangat sempit, termakan ruangnya oleh setting-setting dalam ukuran yang besar itu. Penonton yang duduk lesehan  pandangannya jadi  sangat terbatas.

Jam 19.45 penonton sudah memenuhi tempat pertunjukan, musik bergemuruh keras membuka adegan pertama. Empat orang aktor Bengkel Pantomim (Andy, Ari, Asita, dan Ficky)  keluar dari sepatu besar, mereka bersiap-siap berangkat sekolah.

Di sekolah semuanya duduk rapi, kecuali Yanto yang sibuk dengan dirinya sendiri. Guru, yang ditampilkan dengan suaranya saja memperingatkan Yanto. Ia malah sibuk  menggoda Astuti, yang ditampilkan melalui gerak-gerik pantomim dari Ficky yang memrankan Yanto. Akhirnya Yanto tertidur. Musik keras mulai digeber, para aktor masuk kembali ke sepatu besar. Salah satu aktor, Andy bercerita tentang terbentuknya bumi. Dua barongsai muncul, dimainkan oleh Asita dan Ari, keduanya bertarung memperebutkan telur busuk, yang dibawa oleh Ficky. Namun telur itu meledak dan menjelmalah bumi.

Keempat aktor kembali ke dalam sepatu besar, yang nampaknya berfungsi menjadi backstage bagi mereka, menandakan pergantian adegan. Ide yang bagus untuk mengakali sempitnya ruang di KKF, meski agak mengganggu. Suasana kini di perkampungan, seorang yang sedang buang air besar, seorang sedang merawat ayam yang akan diadunya, seorang lagi merokok sambil ngobrol-ngobrol, sementara seorang yang lain berjalan-jalan menawarkan jajan. Dialog antar mereka disuarakan oleh narator di luar panggung dengan menggunakan mikrofon. Lalu ketiganya bergerak berputar makin lama makin cepat, sesuatu sedang terjadi, musik keras kembali digeber. Ketiganya mulai bergerak-gerak seperti robot yang mekanik, makin lama makin cepat, dari teratur dan tertata rapi lama-lama menjadi kacau seperti mesin yang rusak.

Mereka berubah menjadi semacam mutan atau alien, lalu datang Yanto. Yanto dengan sangat yakin dan percaya diri melawan mereka. Kini musik berubah menjadi seperti ilustrasi video game. Yanto berperang dengan dua makhluk tadi, berkejaran, lompat kesana kemari, dari bela diri hingga tembak menembak dengan laser. Akhirnya Yanto terpojok dan kalah. Ia terkulai lemah di tengah panggung.

Sementara itu, suasana kembali ke sekolah. Tiga murid yang sedang sibuk belajar mendengarkan instruksi guru mereka, tiba-tiba guru berhenti menjelaskan, dan memukul Yanto yang tertidur lemas dengan palu besi. Yanto bangun, dan dengan gontai melangkah kembali duduk di bangkunya. Usahanya untuk menarik perhatian Astuti gagal.

Dengan karakter-karakter kocaknya, sekali lagi Bengkel Pantomim mengocok para penonton yang malam itu memenuhi KKF. Pertarungan dan petualangan yang dibawakan oleh Bengkel Pantomim selalu saja menawarkan kekocakan. Walaupun terkadang adegan-adegan pertarungan yang mereka buat dengan posisi tubuh yang rendah tidak dapat terlihat dengan jelas oleh para penonton yang duduk di bagian belakang.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

***

Tim Kerja Super Yanto (sometimes evrything is wrong)

Sutradara: Ari Dwianto/ Penulis Naskah: Andy Sri Wahyudi/Aktor: Ari Dwianto, Asita, Andy Sri Wahyudi, Ficky Tri Sanjaya/ Stage Manajer: Viar Eka/Artistik: Asita, Pingki Ayako, Klemin/ Kostum: Bakti, Endah/ Lighting: Sugeng Utomo/ Musik: Budi Tarzan dan Gigon/ Produksi: Endah, Imelda/ Dokumentasi: Mas Adjie

Komentar Penonton Bengkel Pantomim:

“Mechakucha Tsugoi (hebat-pen) tanpa bicarapun sudah jelas.” (Ines Chan, 20 tahun, Mahasiswi Sanata Dharma jurusan Farmasi)

“Singkat, padat, jelas!” (Virla, 19 tahun, mahasiswi Sanata Dharma sastra Indonesia)

“Keren plus lucu gitu deh…Bengkel Pantomime imagenya ringan, renyah dan menyenangkan tapi gak bisa dipandang sebelah mata.” (Anik Rusmawati, 28 tahun, Guru Bahasa Jerman SMU De Britto)

“Beberapa pemain terlihat tegang tapi saya menjadi cerah setelah melihat pertunjukannya, karena bentuk visual pertunjukannya baru.” (Penceng dan Janto (Anggota Teater Tesa Solo), 22 dan 23 Tahun, Mahasiswa Universitas Negeri Surakarta)

“Aku suka tapi karena terlambat jadi bingung ceritanya.Cerita naganya aku juga suka.” (Pratanda, 21 tahun, Mahasiswa AMIKOM Yogyakarta)

“Aku suka waktu kemunculan Superyanto” (Ayuk, 23 tahun, Mahasiswi Sanata Dharma)

“Paling suka adegan Superyanto VS Mutant” (Willy, 23 tahun, Mahasiswa AMIKOM Yogyakarta)

“Mundak apik. Bunyi musiknya top apalagi suara Gongnya” (Agung Budyawan, 25 tahun, aktif di GJB:Gerakan Jogja Bangkit)

“Pentas yang ngangenke (membuat rindu) Bagus! ceritanya mengejutkan

Pemusiknya nggemesin lho. Ngimport dari mana?” (IBob, 25 tahun, Mahasiswa jurusan Komunikasi UAJY)