Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Fozan Santa, salah satu pemain dalam Dicông Bak

Seorang tukang kopi yang mempromosikan barang dagangannya bak seorang penjual obat di pasar, orang-orang yang sedang bekerja bakti membersihkan puing-puing rumah yang roboh digoyang gempa, ibu yang mencari anak dan suaminya, serdadu Belanda yang mencari jodoh gadis Yogyakarta, seorang pemuda yang menyanyi, orang-orang yang berebut bantuan, lalu anak kecil yang bermain-main menunggu guru sekolahnya yang tak akan pernah datang karena jadi korban gempa. Fragmen-fragmen tersebut terjadi di bawah pohon, di mana orang di atas pohon mengamati semuanya yang terjadi. Orang di atas pohon sudah berada di sana bahkan jauh sebelum kejadian-kejadian itu berlangsung, karenanya ia hafal dengan sejarah orang-orang yang lalu lalang di bawahnya. Ia menjadi saksi bencana ketika ombak besar menggulung desa, ia menjadi saksi ketika orang-orang dibantai, ia juga melihat orang-orang berebutan bantuan, menemani anak-anak bermain, mendengarkan apa yang diomongkan orang-orang yang lalu lalang di bawahnya.

Malam itu tanggal 25 Agustus 2006, adalah malam terakhir pertunjukan Dicông Bak (yang merupakan bahasa Aceh, atau Manusia di Atas Pohon dalam Bahasa Indonesia, atau The Man in The Tree dalam Bahasa Inggris). Ditemani riuh rendah suara motor dan pengamen lalu lalang yang bersahutan dengan musik tradisional Aceh dan lagu-lagu Jawa, Dicông Bak dihadirkan di hadapan para penonton yang duduk lesehan di halaman Taman Budaya Yogyakarta. Dicông Bak berisi fragmen-fragmen yang tak saling menyatu, adegan demi adegan yang mengalir tak saling berhubungan satu sama lain, yang sedikit membantu penonton adalah semua adegan tersebut berlatar di bawah sebuah pohon.

Dicong Bak adalah proyek kerjasama antara Teater Garasi dari Yogyakarta, Tikar Pandan dari Aceh, dan Theatre Embassy dari Belanda. Ketiga komunitas ini baru bekerjasama untuk pertama kali ini. Menurut leaflet yang didapat sebelum pertunjukan, ide pementasan ini berawal ketika salah seorang anggota Theatre Embassy menjadi relawan saat bencana Tsunami melanda Aceh dua tahun yang lalu. Di sana ia menemukan seorang yang sudah tua yang selamat dari gelombang tsunami, karena ia memanjat pohon dan ia terus berpegangan pada pohon itu.

Naomi Srikandi

Sutradara pertunjukan ini Gunawan Maryanto, dari Teater Garasi mengatakan pertunjukan ini tak hanya sekadar mengenai bencana saja, pertunjukan ini berusaha lebih jauh melihat kompleksitas permasalahan masyarakat dan manusia di dalamnya yang ada sebelum atau setelah bencana terjadi, baik itu di Aceh maupun di Jogja. Dalam dialog antara para pemain memang muncul isu-isu mengenai kekerasan yang dilakukan militer, kesewenangan penguasa terhadap rakyatnya, pihak-pihak yang mengatasnamakan kemanusiaan tapi malah mengambil untung dari bencana, guru yang tak pernah mendapat gaji sepantasnya, atau rebutan bantuan yang sering terjadi di dalam masyarakat.

Gunawan Maryanto menambahkan, Dicông Bak masih merupakan gambaran-gambaran awal yang belum sepenuhnya jadi sebagai sebuah pertunjukan. Tapi Dicông Bak memang ditujukan untuk para penonton yang tidak butuh berpikir keras hanya untuk menikmati sebuah pertunjukan teater, para penonton yang notabene korban bencana tentu tak punya banyak energi untuk mengerutkan dahinya. Memang fragmen-fragmen dalam Dicông Bak seringkali terlihat segar, membuat penonton tersenyum. Seperti misalnya tiba-tiba muncul seorang prajurit Belanda yang membacakan keras-keras sebuah pengumuman dalam Bahasa Belanda yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh seorang aktor, tapi isi terjemahan yang tidak nyambung dengan apa yang dibaca sang prajurit hingga membuat penonton terbahak-bahak.

Atau saat sang penjual kopi, menunjukkan perlengkapannya mulai dari alat saringan kopi hingga sayur-sayuran yang diibaratkannya mortir dan peluru. Tingkah anak kecil dengan logat Jawa medhok yang polos dan lugu saat berbicara dengan orang di atas pohon, atau tingkah dua orang yang berebutan bantuan, yang nampak konyol tapi satir.

Dicông Bak Dicong Bak sendiri dipentaskan mulai tanggal 14 hingga 26 Agustus di Aceh dan Yogyakarta. Di Yogyakarta, sebelum dipentaskan di Taman Budaya, Dicông Bak dipentaskan di empat desa yang menjadi korban gempa. Di tiap pementasan format pementasan bisa berubah, menyesuaikan dengan kondisi wilayah pentas.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 02, November 2006-Maret 2007)

——

Komentar penonton setelah pertunjukan:

“Menarik, lucu, tapi kok banyak bahasanya yang aku nggak tahu artinya.” (Ana Ani, 19 tahun, mahasiswi)

“Atraktif. Musiknya asyik, tapi sayang pentasnya diluar, jadi suaranya pecah.” (Linda, 21 tahun, mahasiswi)

“Kok keliatannya serius banget, ya? Padahal kalau dipikir-pikir ceritanya gak nyambung, gak logis.” (Budi, …tahun, …—keberatan jika usia dan statusnya diketahui)

“Ceritanya bikin penasaran. Soalnya ada banyak cerita. Tapi kok tidak semua ceritanya berakhir.” (Novi, 18 tahun, mahasiswi)

“Judulnya kok aneh? Itu bahasa Aceh, atau apa artinya? Dan bahasanya campur-campur gitu, jadi banyak yang gak terlalu mudheng. Tapi pertunjukannya simpel    dan bagus, saya suka lagu-lagunya sama guyonnya.” (Heri, 24 tahun, mahasiswa)

Advertisements