>> Dari Fukuoka Sampai Jogja, Sebuah Catatan Perjalanan

Oleh: Citra Pratiwi*

Jogja, 10 September 2005. Saya menerima sepucuk surat di inbox email saya yang berisi tawaran untuk berkolaborasi dengan sebuah kelompok performance bernama KYTV (Kill Your Television), Singapura, untuk pertunjukannya yang berjudul NAOPD (Not Available on Print Date). Ini adalah untuk pertama kalinya saya mendapatkan tawaran untuk bekerja sama dengan kelompok lain di luar Indonesia. Sebelumnya saya sudah mengenal kelompok ini sekitar dua tahun yang lalu di Singapura ketika Teater Garasi diundang dalam sebuah festival, Insomnia 48, yang dikurasi oleh Ong Keng Sen. Pada saat itu saya tidak sempat mengenal lebih jauh tentang mereka, hanya sebatas penonton, demikian juga dengan mereka. Baru pada Agustus 2005, saya melihat secara langsung cara kerja, gagasan, kecenderungan, sejarah, dan karya-karya mereka yang lain dalam sebuah pameran seni visual yang berjudul Pop Station yang diadakan di Rumah Seni Cemeti, Jogja.

KYTV adalah sebuah kelompok yang mengeksplorasi bentuk-bentuk medium kesenian seperti seni visual, teater dan tari, multimedia, musik dan suara, dan teks dramatik. Terbentuk sejak tahun 2002 oleh Aaron Kao, Jeremy Sharma, dan Rizman Putra. Sebagai konsep mereka mencoba mengangkat isu hibriditas dalam seni kontemporer sekarang khususnya tentang isu masyarakat urban. Dengan duo Choy Ka Fai dan Rizman Putra sebagai Direktur Artistik, KYTV mencoba untuk menghadirkan karya-karya yang berhubungan dengan spontanitas dan kompleksitas kebudayaan urban yang bersifat hybrid, dan membuka kemungkinan dan batasan dari medium-medium yang mereka gunakan dalam eksperimentasi.

Fukuoka, 12 November 2005. Di ruang tatami untuk pertama kali saya berjumpa dengan Norico Sunayama, seorang penari utama Dumb Type, Jepang. Saya jadi ingat empat tahun sebelumnya, akhir 2001, di ruang TV Teater Garasi, dengan rasa kagum menonton video pertunjukkan Dumb Type dengan judul PH. Saat itu saya anak baru Teater Garasi, dengan pengalaman dan pengetahuan tentang teater yang masih sangat terbatas. Malam itu, DumbType menunjukkan kepada saya betapa teater memiliki ragam cara ucap, kemungkinan yang tidak terbatas atas bentuk, dan ini semua membuat saya kagum kepada mereka.

Di ruang tatami, saya duduk di sebelah Norico-san dan berdiskusi tentang kemungkinan proses dan ide-ide yang muncul untuk pertunjukkan NAOPD-Fukuoka. Norico Sunayama berusia 42 tahun dan telah bergabung dalam Dumb Type selama 21 tahun, dan ikut serta dalam hampir seluruh repertoar sebagai penari utama. Norico-san juga seorang performance artist yang dikenal dengan menggunakan alter ego Snacky. Terinspirasi dari gerak dan performance Micheal Jackson. Malam ini saya senang sekali bisa berada di sana, mengenal banyak tentang dirinya, berproses dan berkolaborasi dengan dirinya. Sesungguhnya saya sedikit cemas karena saya merasa pengalaman saya di seni pertunjukkan masih baru, mungkin, empat tahun dalam proses Waktu Batu bersama Teater Garasi bekal yang cukup untuk saya untuk menghadapi situasi sekarang di Fukuoka, karena proses tersebut memberikan pelajaran kepada saya tentang proses yang kolaboratif, tetapi saya belum tahu apakah bekal ini sudah cukup.

Fukuoka Asian Art Museum lantai 9 gedung Riverain, Hakata-Fukuoka, 19 November 2005. Sudah seminggu saya berada di sini. Selama seminggu ini proses, latihan, diskusi, eksplorasi, untuk NAOPD berlangsung. Waktu tinggal seminggu lagi untuk pementasan. Proses awal kami adalah eksplorasi dari hasil diskusi tentang tema atas adegan-adegan dalam NAOPD. Awalnya gagasan NAOPD adalah untuk mencoba mengeksplorasi kemungkinan dan batasan atas performance art di dalam kasanah seni kontemporer. Judulnya sendiri Not Available On Print Date (NAOPD) memiliki makna sebagai respon langsung atas ketidakjelasan kekinian, ruang dan waktu, sebuah pertunjukan yang mencoba mencari hubungan antara eror dan delusi. Walaupun NAOPD dibangun melalui proses dan adanya rencana-rencana dan struktur, ketika pertunjukan, NAOPD diniatkan untuk selalu tidak terduga, spontan, dan tidak ada format pasti atas bentuk pertunjukan, baik bagi penonton maupun performer.

NAOPD dalam konsepnya terdiri dari 6 adegan  yaitu: Venus, Ground Zero, Game Boy, Instant Light, Shadows, dan To Sleep Near The Sky. Sebelum adegan-adegan ini dimulai yaitu pada bagian Prolog, pertunjukan diawali dengan memperkenalkan adegan-adegan ini lewat penggalan video adegan yang diputar di layar. Kemudian penonton memilih adegan mana yang mereka suka dengan bertepuk tangan. Susunan adegan berdasarkan ukuran suara tepuk tangan penonton. Tepuk tangan penonton kemudian menjadi rangking untuk susunan adegan, adegan dengan tepuk tangan terbanyak menjadi adegan pertama dan seterusnya. Pertunjukkan diakhiri oleh epilog, sebuah adegan berisi teks puitik yang ditembakkan ke layar.

Sebagai performer saya dituntut untuk mampu membangun interaksi dengan baik dengan seluruh kolaborator dalam NAOPD, terutama rekan performer saya Norico-san dan Rizman. Awalnya berat, latihan-latihan di awal kami berusaha untuk membaca kecenderungan kami masing-masing atas respon konsep yang diberikan. Rizman dan Norico-san yang sangat urban dan kosmopolit dan saya yang malah merasa kebingungan. Selama ini, saya selalu merasa diri saya cukup urban terutama karena lingkungan saya dibesarkan. Namun lingkungan teater yang saya geluti memperkenalkan saya dengan bentuk-bentuk kesenian dari berbagai tradisi, misalnya bentuk tari tradisional yang kemudian saya pelajari secara khusus di kelas-kelas tari yaitu tari Jawa klasik dan tari Bali. Pertemuan saya dengan urban Singapura dan urban Kyoto membuat saya menyadari tidak ada pengertian tunggal atas urban. Saya sendiri merasa diri saya berada di tengah-tengah keberjarakan, saya dengan tradisi jauh, sama jauhnya dengan pengertian urban yang mereka anut.

Sebetulnya percakapan ini sudah berlangsung lama di Teater Garasi, dengan Yudi Ahmad Tajudin dan teman-teman Teater Garasi. Namun selama ini saya hanya menangkapnya sebatas konsep, bukan peristiwa. Sekarang saya berhadapan dengan riil, karena di proses NAOPD ini saya adalah satu-satunya kolaborator yang memiliki pengetahuan tentang seni tradisi, walau saya sendiri merasa juga tidak banyak yang saya tahu karena saya tidak dibesarkan oleh kesenian tradisi. NAOPD sendiri menuntut saya untuk menerjemahkan pengetahuan saya atas seni tradisi ke dalam bentuk-bentuk pertunjukkan mereka yang buat saya sangat visual dan kontemporer. Ide-ide yang muncul adalah bagaimana caranya joget jathilan di sebuah rave party.

Sepanjang proses latihan itu saya berusaha mengeksplorasi bentuk dan gerak berdasarkan konsep yang sayangnya buat saya sangat terbatas. Saya sampai mengajukan teks yang saya susun sendiri untuk adegan Venus—di mana pada bagian ini saya bermain tunggal—kepada penaggung jawab artistik saya, karena saya butuh arah panduan dalam eksplorasi gagasan. Cara kerja dalam proses ini memang baru buat saya, di mana kebebasan dan kemandirian saya sebagai seorang performer profesional dituntut secara keras, saya banyak belajar tentang hal ini di proses NAOPD. Dalam proses ini tidak ada sutradara hanya ada penganggung jawab artistik. Buat saya pribadi ini membingungkan karena sebagai seorang performer ternyata saya membutuhkan sutradara sebagai pemandu, dan akhirnya saya hanya terbatas merespon situasi teknis dan visual yang ada di panggung. Hal ini juga terjadi pada Rizman dan Norico-san. Apalagi adegan-adegan dalam NAOPD bukan satu rangkaian yang menyusun arti khusus, adegan satu dengan yang lain sifatnya terpisah. Sebagai interaksi antar performer hanya ada satu tempat di mana kami bertemu yaitu pada satu adegan, Ground Zero. Konsep adegan ini adalah tentang imaji atas pahlawan. Respon kami atas konsep ini berdasarkan latar belakang personal kami masing-masing yang kemudian digabungkan begitu saja. Buat saya, ini sulit sekali: tidak ada sutradara, tidak ada penata gerak. Kami berangkat sepenuhnya dari tafsir individu kami atas imaji pahlawan yang kemudian kami tubuhkan.

Ajibi Hall, Fukuoka Asian Art Museum, 21-23 November 2005. Dalam adegan Shadows kami berkolaborasi dengan penari-penari muda perempuan Fukuoka. Oleh panitia Fukuoka Dance Wave saya diberi kesempatan untuk memberikan workshop selama tiga hari dengan durasi satu jam. Ini adalah kali pertama saya harus memberikan workshop di luar Teater Garasi. Workshop yang saya berikan adalah workshop bentuk gerak tari Bali. Saya memberikan bentuk-bentuk dasar ragam gerak dalam tari Bali. Saya sadar betul bahwa setiap tubuh masing-masing orang memiliki sejarah dan kebiasaan yang berbeda-beda sesuai dengan lingkungan di mana ia berada. Saya sadar betul ragam gerak tari Bali akan berbeda bentuknya ketika mereka tirukan. Hal tersebut buat saya sangat menarik dan saya mencoba menulusuri kemungkinan-kemungkinannya dalam workshop ini.

Di hari pertama, workshop adalah tentang bagaimana nafas berpengaruh pada bentuk gerak khususnya gerak tari Bali. Di hari pertama saya meminta mereka mengikuti gerak dan nafas secara detil, tapi sebatas pose saja. Di hari kedua saya meminta mereka untuk melakukan hal yang sama namun sudah merupakan rangkaian gerak, dan saya meminta mereka secara detil meniru rangkaian gerak sepersis mungkin. Di hari ketiga saya meminta mereka mengeksplorasi gerak dari bentuk-bentuk yang saya berikan selama dua hari kemarin. Gerak-gerak yang muncul sangat menarik. Bentuk-bentuk tari Bali yang saya berikan diaduk dalam tubuh mereka, dicampur dengan kecenderungan gerak masing-masing orang. Para peserta workshop juga sangat bersemangat dalam merespon bentuk-bentuk yang saya berikan. Sebagian besar tertarik dengan bentuk-bentuk tangan dan ekspresi wajah. Hasil workshop ini digunakan dalam adegan Shadows di Fukuoka.

Closing Performance of The 3rd Fukuoka Asian Art Triennale, Ajibi Hall 26-27 November 2005. Di festival yang sama tempat kami menampilkan NAOPD, dua perupa dari Yogya Sigit Pius Kuncoro dan Ag. Kus Widananto (Jompet) juga menampilkan karya visual mereka. Ini waktunya pertunjukkan. Untuk pertamakalinya NAOPD dengan format pertunjukkan dipresentasikan kepada publik. Seperti biasa saya gugup. Bedanya dengan kegugupan yang biasa saya alami adalah sekarang saya berada di lingkungan yang berbeda dan asing. Selama dua hari pertunjukkan berlangsung dengan lancar, penonton hari kedua memenuhi Ajibi Hall, dan NAOPDFukuoka dapat berjalan dengan baik.

Citra dalam NAOPD di Fukuoka

Theatre Studio, Esplanade, Singapura, 24 Maret 2006. Dua minggu terakhir ini kami latihan lagi di Singapura, dan malam ini adalah malam pertunjukkan NAOPD-Singapore. Pertunjukkan ini merupakan bagian dari SPARKS 3 Workshop Presentation. NAOPD sendiri secara bentuk pertunjukan tidak ada perubahan secara drastis, namun kami semua berdasarkan catatan Fukuoka kemarin mencoba membuka kemungkinan-kemungkinan bentuk yang lebih dalam atas adegan-adegan kami. Selama dua minggu kami latihan di sebuah studio tari di Jalan Besar Community, Lavender. Kami latihan setiap hari dari jam 10 pagi-5 sore. Waktu kami sangat singkat untuk menggarap kembali bentuk-bentuk yang ada dan tempat latihan kami tidak mendukung perangkat teknis yang akan kami gunakan dalam pementasan kami. Tapi bagaimanapun pementasan harus tetap berlangsung, kami semua berusaha mengejar semampu kami.

NAOPD-Singapore buat saya—selain mengulang kembali apa yang sudah dipertunjukkan di Fukuoka—adalah mengejar hal-hal yang tidak sempat saya wujudkan di pertunjukan Fukuoka. Selama proses saya mencoba mengesplorasi bentuk dan gerak baru khususnya untuk adegan Venus dan Ground Zero. Saya menambah porsi gerak-gerak yang berlatarbelakang diri saya yang mempelajari gerak tari Jawa, Bali, dan silat, yang saya campur-adukkan dengan diri saya yang suka rave party, yang urban tanggung, seperti kata mereka.

Pertunjukan NAOPD-Singapore secara keseluruhan lebih tertata dibandingkan NAOPD-Fukuoka. Karena pertunjukan hanya berlangsung satu hari, penonton yang datang cukup banyak dan respon penonton lebih antusias ketimbang NAOPD-Fukuoka, mungkin karena KYTV adalah seniman Singapura. Saya sendiri merasa pertunjukkan NAOPD-Singapore lebih hidup, walaupun saya sendiri tetap gugup sebelum pentas. Nakao Tomomichi, kurator Fukuoaka Asian Art Museum berkomentar bahwa pertunjukan di Singapura lebih bagus daripada di Fukuoka, ia menyempatkan diri untuk datang dan menonton.

Jogja, 30 Maret 2006. Empat hari saya sudah pulang di Jogja. Ketika saya menuliskan pengalaman ini, mengingat kembali apa yang saya lewati dan alami. Ada banyak hal yang saya pelajari dalam proses NAOPD. Saya belajar tentang kemandirian sebagai seorang aktor/performer, di mana saya biasa berada di dalam kelompok saya, sekarang saya harus berhadapan dengan masalah-masalah dalam proses sendirian. Saya belajar tentang keterbukaan dan interaksi, awalnya memang sulit, berada di suatu tempat yang asing, di mana saya harus beradaptasi untuk bisa membangun hubungan dengan hal-hal yang jauh bagi diri saya. Perjalanan ini buat saya sangat berharga, saya bertemu dan berkesempatan untuk bekerja sama dengan seseorang dimana empat tahun yang lalu saya mengaguminya dari sebuah video di ruang TV. Ketika saya bertemu dan berproses untuk NAOPD ada banyak pertanyaan di kepala saya mendapatkan jawaban-jawaban, tentang proses, keterbukaan dan interaksi, kemungkinan-kemungkinan dalam pertunjukan, dan masih banyak lagi. Mungkin, juga sebanyak pertanyaan yang saya temukan di sana yang saya sendiri juga tidak tahu bagaimana menjawabnya.

* Citra Pratiwi, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 01, Mei-Oktober 2006)