Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Rabu malam 22 Februari 2006, saya berangkat menonton pertunjukan tari berjudul Bedoyo Silikon karya Fitri Setyaningsih. Seperti tertera di undangan, pertunjukan ini diadakan di kolam renang keluarga Steven di perumahan Pogung Baru Jalan Kaliurang. Saya yang tak punya banyak referensi tentang tari sehingga saya cukup penasaran membayangkan sebuah pertunjukan tari bedoyo yang tradisional dan sakral, digabung dengan silikon yang berbau modern, dengan mengambil kolam renang sebagai ruang.

Saya sedikit terlambat datang ke tempat pertunjukan, membuat saya harus berdesakan untuk menuntaskan rasa penasaran. Ternyata bayangan saya jauh dari kenyataan: kolam tempat pertunjukan dikeringkan airnya, dan yang dimaksud dengan bedoyo jauh berbeda dengan bedoyo yang dipentaskan di keraton-keraton Jawa. Gerakan-gerakan yang dilakukan jauh dari halus, tidak ada gamelan, dengan kostum putih transparan, sepanjang pertunjukan para penari bergantian menggunakan benda-benda seperti kotak buah yang digunakan di kepala, sarung tangan karet, dan daging segar yang berbau amis. Pertunjukan berdurasi sekitar 40 menit dan selama itu para penonton harus menunduk mengikuti gerakan-gerakan para penari di dasar kolam.

Saya sama sekali tidak mengerti jalan cerita dari pertunjukan ini, dan belum sempat saya bisa mencari pengertian, pertunjukan segera berakhir. Untungnya di dalam booklet yang disediakan panitia terdapat sinopsis pertunjukan. Dari sinopsis tersebut, saya baru tersadar bedoyo yang maksudkan dalam Bedoyo Silikon, lepas sama sekali dari bedoyo tradisional. Bedoyo di sini menawarkan  perlawanan dari tari bedoyo yang halus, sakral, dan feminin. Sedang silikon mengacu pada mitos kecantikan, seperti tertulis dalam booklet:

silikon adalah dewa kecantikan yang menghidupi dirinya dari jiwa dan nyawa banyak perempuan yang dikorbankan untuknya. sejak itu kecantikan sama dengan api yang menakutkan

Setelah pertunjukan diadakan diskusi membahas pementasan, dengan narasumber Miroto, koreografer tari terkemuka dari Jogja, dan St. Sunardi, dosen Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma. Baru kemudian setelah beberapa waktu Fitri Setyaningsih, koreografer dari pertunjukan ini mendampingi para pembicara.

Sambil menikmati teh dan jajanan yang disediakan panitia, kembali saya mencoba menangkap hal-hal yang ditawarkan dari pertunjukan ini. Miroto sebagai seorang pakar tari, menuturkan pengalamannya menonton pertunjukan Bedoyo Silikon yang menurutnya hampir serupa pertunjukan-pertunjukan di luar negeri. Di tahun 80-an ketika berada di Jerman, ia sempat menyaksikan sebuah pertunjukan tari yang tidak hanya berisi gerakan-gerakan  yang dibagi dalam hitungan yang sesuai dengan pakem. Dalam pertunjukan itu, seluruh penari tampil sebagai individu yang independen di atas panggung, bukan merupakan penari yang serba diatur oleh koreografer atau pun terikat pada pakem-pakem tertentu. Yang nampak memang bukan sebuah pertunjukan tari, melainkan lebih dekat ke teater tari. Ia menambahkan, jenis tari seperti ini memang pada awalnya berkembang di Eropa, sementara di Indonesia jenis tari ini belum banyak disentuh oleh para koreografer.

St. Sunardi menawarkan sudut pandang yang lain dalam melihat pertunjukan ini. Ia melihat pertunjukan ini menawarkan banyak hal-hal yang berlawanan. Erotisme yang ditawarkan para penari dengan gerakan-gerakan dada dan pinggul, dengan kostum berwarna putih yang transparan. Di akhir pertunjukan, para penari memukul-mukulkan daging yang berbau amis ke tubuh mereka dan ke dinding kolam. St Sunardi mempertanyakan apakah hal ini berarti mitos kecantikan harus dilawan? Atas nama apa kecantikan dilawan ? Pertanyaan ini kemudian memang tidak terjawab hingga akhir diskusi.

Fitri Setyaningsih kemudian ikut berbicara mengenai proses yang ia lakukan. Ide cerita dari Bedoyo Silikon sendiri adalah ketika ia melihat dirinya sendiri dan teman-temannya, yang terbelenggu dengan “kecantikan”. Wanita harus tampil cantik, dengan berbagai kosmetika, baju, dan lain sebagainya yang mendukung penampilannya. Dan nampaknya Fitri ingin melawan kecantikan yang identik dengan halus dan lemah lembut dengan sesuatu kasar, keras, dan kotor.

Ia mengaku Bedoyo Silikon yang sudah dipentaskan sejak 2005, hingga sekarang sudah pernah dipentaskan di beberapa kota seperti di Pekanbaru, Solo, dan Surabaya, dan baru pertama kali ini dipentaskan di Jogja.

Fitri menambahkan bahwa pementasan di dalam kolam adalah untuk yang pertama kalinya untuk Bedoyo Silikon. Tapi di pementasan-pementasan sebelumnya Fitri berusaha menampilkan Bedoyo Silikon dalam format panggung  yang tidak biasa, sebab  ia merasa  tidak cocok bila dipentaskan di atas panggung formal. Ia dan para penari pun hanya sempat berlatih sekali di dalam kolam yang digunakan untuk pertunjukan, karena hujan yang terus turun. Fitri mengakui ada perbedaan mendasar, antara pentas di panggung biasa dengan pentas di dalam kolam. Biasanya penonton melihat ke depan atau ke atas, kali ini penonton harus melongok ke bawah.

Dan seperti tertulis dalam booklet, pilihan pada kolam renang adalah bagian dari eksplorasi pencarian kelompok ini terhadap ruang pentas. Dalam diskusi Fitri menyatakan bahwa kolam yang dikosongkan dari air ini mewakili konsep Bedoyo Silikon yang instan dan keras, meski Fitri tidak menjelaskan lebih jauh mengenai apa yang dimaksud dari “instan” dan “keras” tersebut.

St. Sunardi menambahkan, kolam menawarkan erotisme tersendiri karena para penari yang bergerak dengan liar, membuat bagian-bagian tubuhnya yang tersingkap dapat dengan jelas ditangkap mata penonton yang berada tepat diatasnya. Sementara Miroto mengungkapkan bahwa tari bagaimanapun identik dengan tubuh, sementara erotisme itu muncul dari tubuh. Oleh karena itu tari tak mungkin bisa lepas dari erotisme.

Ketika diskusi sudah hampir usai, jajanan di sekitar saya sudah habis. Saya menoleh ke belakang mencoba melihat-lihat rumah tempat pertunjukan dilangsungkan. Ternyata di belakang saya adalah perempuan-perempuan penari yang tadi baru saja tampil. Meski mengusung tema melawan mitos kecantikan ternyata para penari, yang hampir semuanya berasal dari STSI Solo itu tak bisa dikatakan tidak cantik. Saya teringat ketika beberapa penari berbaris masuk ke dalam kolam renang dan lewat di depan saya, bau harum mereka tercium hidung saya, dan ketika wajah mereka yang berkeringat di dalam kolam yang disorot lampu terlihat make-up yang luntur.

Entah hal itu disengaja atau tidak, tapi mungkin memang sangat sulit melepaskan tari dari hal-hal bernama kecantikan, tubuh, dan erotisme.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 01, Mei-Oktober 2006)

*****

Tim Kerja Bedoyo Silikon

Koreografer: Fitri Setyaningsih/ Pimpinan Produksi: Retno Sayekti Lawu dan Yuni Wahyuning/ Penari: Aloysia Neneng Yunianti, Febriyanti, Fitri Setyaningsih, Ning Wiarti, Retno Sayekti Lawu, Ristyaningsih, Taili Eyilda Leon, Wirastuti/ Komposer&Pemusik: Galih Naga Seno, Nadias Rusendro Nugroho/ Artistik: Afrizal Malna, M. Toha, Tyas Sumarah, Yoyo Jewe