>> Sebuah Pementasan Teater dari Creamer Box, Bandung

Oleh : Hindra Setya Rini*

Sebuah perlawanan atas konsep dari yang digulirkan oleh penggarap karya sastra dalam bentuk naskah kiranya kami meyakini adanya perbedaan tafsir dari sesuatu yang baku mengalir melalui proses transformasi, lahirlah Underdog The End dari Lawan Catur karya Kenneth Arthur

Demikian yang dikatakan oleh Bob Teguh, sutradara teater Creamer Box, dalam memilih naskah Lawan Catur yang dipentaskan di Hall Teater Gadjah Mada Jogja, pada hari Sabtu,  pukul 19.30 WIB, tanggal 14 Januari 2006. Ini kali ke dua Underdog The End dipentaskan oleh Creamer Box, dan dikelilingkan ke berbagai kota di Jawa. Karya-karya Creamer Box sejak menapakkan jejak perjalanannya dalam dunia perteateran antara lain adalah Waiting For Godot (Samuel Beckett) yang dipentaskan keliling Jawa – Bali (2001-2002), Prahara Cinta Arok Dedes (2003), Underdog The End (2003), To Be Or Not To Be/Hamlet (2003), Dirah (2004), Anjing Kudisan (2005).

Karya teater produksi ketujuh Creamer Box ini dimainkan oleh tiga aktor tetapnya, yaitu Najmi, Yanto, Bapana Raka Rai. Dalam pertunjukannya, ketiga aktor tersebut melakukan pose dan gerakan akrobatik tanpa henti selama pertunjukan berlangsung. Dengan setting panggung dan cahaya yang minimalis, dan memilih hardcore sebagai musik pembuka di awal pertunjukan, menarik penonton untuk terus menikmati pertunjukan ini dalam ruang kecil berkapasitas 150 orang dengan tehnik pemanggungan teater arena. Garis panggung membentuk segi empat, dan penonton duduk lesehan mengelilinginya. Hanya sebuah meja yang didesain sedemikian rupa dengan lampu yang bercahaya hijau di bawahnya merupakan satu-satunya set yang ada di panggung. Berada di tengah dengan posisi diagonal.

Pertunjukan dimulai pukul 20.00 WIB, dan berdurasi sekitar 45 menit itu berlangsung dengan permainan aktor yang menggunakan bahasa tubuh terus menerus mengalir tanpa henti, sementara vokal yang diucapkan oleh aktor-aktornya sengaja diabaikan dari bahasa verbal teksnya itu sendiri. Menurut sang sutradara, hal itu memang disengaja, karena dalam Underdog The End ini ia membebaskan  kata dari artikulasi, dan vokal lebih menjadi komposisi bunyi. Untuk musik dalam pertunjukannya, ia tidak menetapkan satu jenis aliran tertentu, seperti dalam Underdog The End, musik selalu berubah di setiap tempat di mana pementasan berlangsung. Creamer Box melakukan kerjasama dengan pelaku-pelaku seni setempat yang mereka kunjungi sebagai ajang silaturahmi, melibatkan pelaku seni lain agar bisa langsung terlibat sebagai ajang sosialisasi bentuk. Maka, musik akan selalu berubah tergantung dari respon teman-teman praktisi seni yang mereka temui.

Ada beberapa perubahan dalam pementasan Underdog The End kali ini dari yang sebelumnya. “Pada prinsipnya sama, hanya beberapa perubahan bentuk set properti yang dirubah menjadi knock down dikarenakan kebutuhan efisiensi keliling, dan penokohan diubah dari tokoh laki-laki Samuel menjadi Samanta yang perempuan sebagai kebutuhan membangun kontradiksi bentuk dengan mengusung perbedaan seksual” kata Bob Teguh. “Setting minimalis, karena kami ingin membangun rupa pada bentuk dan membangun komposisi bunyi pada vokal yang mengabaikan verbalitas, teks kemudian dihancurkan” tambahnya.

Style Creamer Box adalah mengalirkan bentuk atraktif sebagai komposisi bentuk visual dan vokal sebagai komposisi bunyi. Semua bentuk tidak mengandung arti, atau bahkan makna yang diusung adalah fantasi visual dan penjelajahan bunyi. Bermakna atau tidak bermakna diberikan sepenuhnya pada tafsir apresiator, sebagai proses pemerdekaan apresiator. Kebebasan. Sepertinya inilah yang hendak disampaikan dari Underdog The End, yang dalam prosesnya, Creamer Box bebas menghidupkan atau mematikan tokoh, bebas membuat alur atau plot, juga memangkas atau menambah cerita. Kebebasan ini juga sampai ke wilayah apresiator. Seperti malam itu, penonton dibebaskan mengaktifkan ponsel pada saat pertunjukan berlangsung dan menggunakan lampu kamera pada saat mengambil gambar jika memang diperlukan. Demikian, seperti yang diungkapkan Bob Teguh kepada reporter skAnA dalam percakapan paska pertunjukan Underdog The End di Hall Teater Gadjah Mada, Jogja.

Terakhir, tentang Underdog The End (Lawan Catur) itu sendiri adalah sebuah tafsir, persaingan, perseteruan, antara adanya ego dan superego dimana manusia mempunyai dua kepribadian mencoba mematikan untuk berbagai kepentingan, eksistensi.. eksistensi..! Satu di antaranya harus dikalahkan atau mengalah hilang di antara satu, kedua-duanya tak akan bisa berjalan bersamaan. “Saya orang mati yang berbicara dengan orang mati”. Kiranya begitulah yang disampaikan Creamer Box dalam Underdog The End, hidup kebebasan!

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor di Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 01, Mei-Oktober 2006)

*****

Komentar Penonton

Bagus, dialognya menarik Tata panggungnya juga menarik, bisa dilihat dari segala sisi, seperti tiga dimensi. Tapi ada dialog-dialog yang gak jelas dan terganggu gerakan aktornya. (Hoho, 20, Mahasiswa UGM)

Ada yang baru. Pertunjukan teater non-konvensional. Tapi dialognya kurang jelas, vokalnya selalu mati di akhir. Diluar itu pertunjukannya asyik, memperkaya teater. (Samsi, 27, Mahasiswa UGM)

Ga tahu maksudnya apa? Datang terlambat sih, tadi. (Oni)

Konsep cerita mengutamakan visual, melepas teks naskah. Di sini gerakannya kaku tidak seperti di Solo kemarin, vokalnya juga ada yang kurang jelas. Mungkin energi aktornya sudah terkuras. Adegan pertama lebih bagus daripada waktu pentas di Solo, tapi di adegan kedua kondisinya menurun. (Lutung, 22, Teater Manggar)

Ceritanya singkat tapi mendalam. Suasananya tegang dan mencekam. Banyak kejutan-kejutan. (Aziz, 15, SLTP 5 Yogyakarta)

Bagus. Pementasan yang baru di Jogja. (Herlambang, 23, Teater Tangga)

Ekspresinya bagus. Tapi kok, dialognya monoton, Jungkir balik gak jelas. Tapi lainnya keren. (Sofa, 20, Mahasiswa UGM)

Vokalnya kuat dan jelas, gerakan-gerakannya bagus. Walau jungkir balik, tapi vokalnya tetap terjaga. Karena vokalnya bagus, suasana yang dibangun terbentuk. (Aya, 20, Mahasiswa UGM)

Pencahayaannya minimal, tapi kena dan kuat. Hardcore-nya keren. (Ratih, Yayasan Pondok Rakyat )

Aku suka dengan settingnya yang sederhana dan minimalis. (Linda, Teater Gadjah Mada )

Suka sama musiknya dan gerak akrobatik aktor. (Suba, Mahasiswa Fak. Sastra, UGM)

Ada olah tubuh yang matang. (Taya, Teater Gadjah Mada)

Tehnik olah tubuh bagus, tapi tidak tahu mengkombinasikannya dengan dialog. Mungkin ada yang ingin disampaikan oleh mereka dengan pilihan style itu. (Ibed, Mahasiswa ISI )

Tim Kerja Pentas Keliling Under Dog The End (2005-2006)

Aktor: Najmi, Yanto, Bapana RagaRakaRai

Pimpro: Dita Rose

Musik: Berkolaborasi  dengan daerah setempat

Lampu              :           Taufik Hidayat, Deden Bulqini

Kostum            :           Dita

Artistik :           Djalaludin Bulqini

Sutradara         :           Bob Teguh

Pementasan      :           –   Teater Luwes I K J  Jakarta, 29 Desember 2005

–   Taman Budaya Prov. Kalsel,  Januari 2006

–   Sanggar Bona Alit Gianyar Bali, 4 Januari 2006

–   IKIP Singaraja Bali, 6 Januari 2006

–   Gd. Dewan Kesenian Malang, 10 Januari 2006

–   Universitas Muhamadiyah Surakarta, 13 Januari 2006

–   Teater Gajah Mada Jogja, 14 Januari 2006

–   Universitas 17 Agustus Cirebon, 16 Januari 2006

–   ULTIMUS Toko Buku Bandung,  24 Januari 2006