Sebuah Percakapan dengan Gati Andoko, Sutradara Ketoprak Lesung Teater Gadjah Mada

Oleh: Hindra Setya Rini*

Pada sebuah pagi, tepatnya hari Sabtu, tgl 18 Februari 2006, bersama dua orang teman, seorang dari Teater Garasi dan seorang dari Teater Gadjah Mada, saya bertemu dengan Gati Andoko, seorang seniman teater yang lima tahun belakangan ini namanya tak bisa dilepaskan dari geliat Teater Gadjah Mada (TGM) dan ketoprak lesungnya.

Pkl 10.00 WIB, kami berangkat menuju dusun Ngelosari, di mana Gati Andoko tinggal, di kaki gunung Merapi. Kira-kira satu jam perjalanan dengan satu kali nyasar sebelum memasuki sebuah areal perkebunan salak di sepanjang jalan ke tempat tujuan. Kami melewati kampung-kampung dan jalan yang berliku untuk sampai ke sana. Ketika tiba di tempat Mas Gati, begitu biasanya kami memanggilnya, kami langsung dihadapkan pada sebuah pertanian dengan beberapa kolam ikan, dan  gemericik air mancur dari sumber-sumber mata air yang mengalir dari gunung. Mas Gati yang sudah menanti kami di depan bangunan rumah kecilnya yang sederhana, langsung mengajak kami untuk berkeliling menyusuri lahan pertanian.

Kemudian kami turun kembali ke rumah sederhana tadi, di mana ruangannya terdiri dari satu kamar kecil, dapur di sudut, dan ruangan tempat kami bercakap-cakap, sementara lagu-lagu nostalgia terus terdengar dari sebuah tape compo yang tak jauh dari kami. Ada kolam ikan di sisi kiri kami, masih di dalam ruangan yang sama, untuk Nila Merah dan Bawal yang umurnya kira-kira satu tahun. Ini kali ketiga Mas Gati panen ikan. Siang itu kami bersantap di ruang kecil beralaskan tikar, mencicipi ikan bakar yang kami bakar sendiri, meskipun yang meracik bumbu dan sambal adalah Mas Gati. “Wuih, ditanggung lidah bakal kobong!” celetuk seorang teman. Percakapan kami yang hangat terus berlanjut sampai hari beranjak sore, sementara di luar bangunan tempat kami bercengkrama, dingin mulai mengusik, karena hujan turun sebentar, menyisakan gerimis dan mendung tebal di langit.

Mas, bisa cerita sedikit tentang Ketoprak Lesung TGM?

Wah, kalau itu sih enggak sedikit. Panjang ceritanya. Gimana? (kami tertawa)

Hmm. Gini, awalnya saya bersama teman-teman di ISI (Institut Seni Indonesia). Saya bergabung dengan Ketoprak Lesung ISI. Itu sebelum di Sastra (Fakultas Ilmu Budaya UGM). Nah, kebetulan saya juga sedang membuat Wayang Antro (unit kegiatan seni di Jurusan Antropologi FIB UGM) selama beberapa tahun. Dan dari tukar-menukar pemain, akhirnya jadi. Di Wayang Antro ada anak ISI, dan di Ketoprak Lesung ISI ada anak Wayang Antro.

Kemudian Ketoprak Lesung masuk ke Fakultas Sastra?

Iya. Ketoprak Lesung masuk ke Sastra, yang membawa adalah saya dan teman saya, namanya Kuncung (Ikun Eska—pen), pada tahun ’94. Ketoprak Lesung yang di Sastra waktu itu, ya, bentuknya cuma begitu itu. Ketoprak yang saya garap sebenarnya sering ditolak-tolak. Ya, ditolak pemainnya. Ya, ditolak penontonnya. (Mas Gati tertawa)

Karena apa, Mas? Mungkin sulit bagi mereka?

Ya, harus disiplin. Sulit, karena dibutuhkan kedisiplinan yang tinggi. Apa saja, kelenturan tubuh yang kuat, misalnya. Kemudian sekitar tahun ’98, saya vakum. Karena lebih terlibat di pergerakan mahasiwa waktu itu. Dan baru tahun 2000-2001, saya aktif di TGM.

Bagaimana respon teman-teman Ketoprak Lesung di ISI, ketika Ketoprak Lesung dibawa ke Fakultas Sastra, Mas?

Bagus. Nggak ada masalah. Karena saya selalu menceritakan sisi historisnya dengan teman-teman. Justru di ISI kemudian ada tambahan mata kuliah di sana, tentang ketoprak itu sendiri. Saya tidak akan meninggalkan sisi historisnya. Saya kan juga tahu bagaimana sejarahnya di ISI. Memang sempat ada sedikit konflik antara Ketoprak Lesung ISI yang dimotori oleh Brotoseno dan Ketoprak Lesung Sastra yang dimotori Gugun Gondrong. Nah, kehadiran saya itu, dan beberapa teman saya, Kuncung, Aris Lemu, Bambang Gundul, di Ketoprak Lesung ISI sebenarnya juga untuk mendamaikan itu. Ya, paling tidak menengahi itu.

Lalu bagaimana dengan anak-anak TGM sendiri ketika Ketoprak Lesung masuk? Sejarahnya bagaimana, Mas?

Ya, gimana, ya? Awalnya hanya berangkat dari obrolan-obrolan saya dengan Jon (Jon adalah panggilan Johan, salah satu aktor TGM waktu itu, yang sekarang lebih dikenal sebagai stage manager dalam berbagai pentas-pentas besar teater di dalam dan luar kota Yogya—pen). Dan akhirnya kami menggarap ketoprak lesung yang pertama di TGM. Waktu itu sih katanya TGM sedang kusam, tidak ada gairah, ora jelas tur nggaya (tidak jelas tapi berlagak—pen). Ya, begitulah, kata teman-teman yang melihat pada waktu itu. Pernah sih TGM dapat nominasi sebagai aktris terbaik, tahun ’97 kalau tidak salah, dan setelah itu ya sudah.

Ya, dari obrolan dengan Jon itulah ketoprak lesung di TGM lahir. Kami ngobrol, dan dia bilang “Mas, gimana kalau nggarap ketoprak lesung aja”. Dan tanggal 14 Februari 2001, kami main di Benteng Vredeburg. Mudin Karok yang sudah kami pentaskan lebih dari 30-an kali. Yogya, Jakarta, Cirebon, Tegal, Malang, Solo, Makassar, Magelang, Purwokerto. Kalau Bandung, belum. Belum tersentuh sama sekali. Kami belum pernah pentas di sana.

Modin Karok di Mendut (1,2) dan Jak@rt (3)

Terus, karya-karya Ketoprak Lesung TGM yang selanjutnya?

Ehm, tahun 2000 itu yang pertama, tapi main cuma sekali, Naga Grinsing. Mudin Karok, terus Alang-Alang, Sang Hyang Kalumpang, baru Jaran Sungsang.

Ada bedanya nggak sih, Mas, antara Ketoprak Lesung (ISI dan Sastra) yang dulu dengan Ketoprak Lesung TGM?

Ya. Kalau yang dulu lebih ditekankan ke komedi, untuk sisi artistiknya tidak ada yang luar biasa. Dan nyaris tidak ada pembaharuan sama sekali.

Konsep ketoprak lesung itu sendiri apa sih, Mas?

Kalau konsep yang saya gunakan dalam ketoprak lesung itu malah pra-ketoprak. Pra-ketoprak lesung, sebenarnya. Kalau kemunculan gejok lesung tahun 1908, itu baru gejokan (tabuhan atau pukulan—pen) dan baru masuk ketoprak. Nah, baru kemudian kemasukan unsur tonil untuk dramatisasinya, dan juga terpengaruh dengan wayang untuk pakem-pakem dan adegan-peradegannya. Nah, saya mengambil sebelum pakem-pakem itu. Tapi, nampak sekali rentang waktunya kurang banyak. Proses-proses untuk ketoprak biasanya begitu. Dan ada banyak gaya-gaya kan dalam ketoprak. Untuk artistik, alur, gaya, saya mengambil Ketoprak Kebumen. Itu yang saya pakai.

Bedanya apa dengan Ketoprak Yogya, Mas?

Kalau Yogya kan dekat sekali dengan Keraton. Jadi, ide-idenya masih keraton sentris. Beberapa hal isinya mengarah ke Keraton. Tidak kasar, lebih diperhalus, dan kehalusan bahasa itu ditaati betul. Kalau Ketoprak Kebumen atau pesisiran itu liar. Sangat liar permainannya. Nah,  saya mengambil keliarannya itu. Karena lebih luas untuk bisa kita eksplorasi. Dan ceritanya sendiri tidak keraton sentris. Ya, mitos-mitos di sekitar kita saja. Misalnya, menyindir perilaku Pak Lurah, atau kadang menyindir diri sendiri. Nggak masalah. Untuk ceritanya sendiri tidak harus keluar terlalu jauh, ya  dari sekitar saja yang mungkin malah lebih mengena.

Nah, kalau aktor-aktornya sendiri, latihannya bagaimana Mas? Apakah harus berbahasa Jawa?

Ya. Harus. Itu sudah konsekuensi. Namanya juga kesenian tradisional. Ketoprak kan tradisional, jadi harus bisa apa-apa. Ya, itu yang saya harapkan. Paling tidak tetap saya paksakan. Entah cuma mendengar atau apa, ya dicoba nembang. Apalagi patron lagu Jawa itu kan sulit, cengkok dan hitungannya juga sulit. Dan tradisi ketoprak yang dulu terus ditransformasikan ke sekarang itu juga yang sulit. Ada beberapa metode yang berbeda. Dulu kan pendekatannya kanuragan yang lebih spiritual, pakai mantra ini-itu, kembang, kemenyan, jampi-jampi, ya ritual begitu. Tapi sekarang saya lebih pendekatannya fisik dulu sebagai dasarnya. Sangat fisik, biar keluar secara alamiah kalau latihan-latihan itu benar dilakukan oleh aktornya. Kalau dulu trans-nya memanggil arwah, sekarang trans-nya dengan kebersihan hati.

Menurut Mas Gati, bagaimana regenerasi di TGM selama Mas di sana?

Ya, gimana, kan selalu berganti-ganti. Tidak ada perbedaan yang besar dari tahun ke tahun. Ya memang demikianlah teater kampus. Saya selalu mengambil sisi solidaritasnya. Itu yang saya pegang dengan kuat. Yang paling rumit ya itu, bagaimana dalam sebuah pementasan jarak yang besar itu tidak terlihat. Nah, itu kan nggak mungkin. Dan saya mencoba sebisa mungkin membuat jarak itu tidak terlihat. Selama ini saya selalu mengantisipasi itu.

Alang-alang di Festival Kesenian Yogyakarta 2005

Bahkan saya harus sebisa mungkin menutupi celah-celah yang nampak kosong. Paling tidak antara aktor yang senior dengan yang yunior bisa  sinergis. Saya harus jeli mengantisipasi kelemahan. Satu peristiwa waktu itu, pas 1 hari sebelum pementasan ada aktor yang kecelakaan dan harus diganti. Ya, saya harus siap itu, mencari aktor pengganti. Itu awal Gembes (salah satu aktor TGM yang sekarang juga tinggal bersama Gati di padepokan dan hadir di antara kami di ruangan itu) main teater.

Seperti Mudin Karok, itu semua pemainnya juga ganti-ganti terus. Hanya beberapa orang saja yang tinggal. Tapi, nggak ada perbedaan yang besar. Saya belajar dari guru saya dulu, Mas Harno (Fajar Suharno, Teater Dinasti Jogja—pen). Ya, yang mengenalkan teater pertama kali pada saya. Saya belajar bagaimana trik-trik  memake-up aktor.

Apa trik-triknya, Mas? Bisa dibocorkan?

Ha ha.. Ya, prinsip saya kalau ketoprak tidak butuh seragam, dan saya memanfaatkan keanekaragaman. Keanekaragaman karakter, keanekaragaman aktor itu sendiri, kekurangan dan kelebihannya. Harus lihat sisi negatifnya, kekurangannya apa. Dan itu bisa ditutupi dengan kelebihan dari aktor yang lain. Pola dialog, kelenturan, kostum, set, properti, make-up, dan lain-lain juga membantu menutupinya. Tapi, aktor yang tahu kelemahannya tetap harus mengejar kekurangannya itu. Itu juga masuk dalam solidaritas. Aktor yang senior juga nggak langsung sok senior, wong latihannya sama kok,  yang masih kurang-kurang itu ya latihan lebih kenceng dari yang lain. Biasanya saya yang memberi latihan khusus atau tambahan. 1-2 hari latihan sama saya. Prinsipnya saya hanya membuka emosinya. Apalagi aktor-aktor baru itu. Ya masih malu, atau apa, meskipun kadang-kadang saya dan Mas Heru (Heru Sambawa, pelatih TGM—pen) membukanya dengan tenaga yang lebih, komunikasi jarak jauh. Ya demi keselamatan sebuah pertunjukan.

Dalam hal ini, yang ritual tradisi tadi dipakai ya, Mas?

Ha, piye meneh? Tapi, murni kekuatan, bukan jampi-jampi atau apa. Itu yang bikin capek sebenarnya. Aktor sendiri kadang tidak sadar kalau ada support semacam itu, ya itu terserah mereka. Ini soal percaya atau tidak percaya.

Yang paling sulit di antara semua produksi ketoprak lesung apa, Mas?

Paling sulit itu ketika Jaran Sungsang. Ada beberapa hal, artistik dan pengalaman-pengalaman spiritual yang saya alami ketika menggarapnya. Karena itu cerita nyata, dan saya pernah berhubungan langsung dengan tokoh dalam cerita itu. Dia menggendong saya, sewaktu saya masih kecil. Jadi, ini cerita yang sangat personal bagi saya. Seperti merasa bertanggung jawab ketika ini ingin saya mainkan. Pertanyaan, bener nggak ya saya ingin memainkan ini? Terus-menerus mendera saya. Tekanan batin juga.

Yang paling sulit di anak-anak TGM sendiri, apa yang Mas Gati temui selama ini?

Jaran Sungsang di Taman Budaya Yogyakarta, 2005

Ya, masalah itu tadi. Penyakitnya teater kampus, jadi tidak bisa dipastikan. Sudah latihan dalam rentang waktu yang panjang untuk pementasan ini-itu, eh tiba-tiba beberapa hari menjelang pentas ada beberapa aktor yang mengundurkan diri. Ya repot. Ini hal yang sudah biasa bagi saya, kan sudah dari dulu nguplek-nguplek di sana. Dari pengalaman-pengalaman saya itu, jadi tahu. Dan saya selalu menggarap orang baru terus, yang masih awam. Dan saya sudah terbiasa dengan itu. Di teater Shalahudin, di Sastra, saya selalu dihadapkan dengan orang-orang baru, ya nggarap lagi. Sampai akhirnya saya sekarang sudah tidak kuatir dengan kehadiran aktor. Mau datang atau mundur, silahkan. Bahkan jika ada aktor yang mundur 5 menit menjelang pentas, ya saya tidak akan nggondeli. Tidak memaksanya untuk bertahan. Yang penting ada kejelasan dan mantap dalam mengambil keputusannya.

Seperti konsekuensi ya,  Mas?

Iya. ya begitu konsekuensinya bagi saya. Karena ini teater kampus. Dan harus siap juga kehabisan aktor. Menghadapi keluar masuknya aktor itu sudah seperti makanan sehari-hari.

Ketoprak Lesung membawa perubahan apa, Mas? Karena sebelumnya TGM kan kusam atau muram

Itu bukan saya yang ngomong lho. Orang lain yang melihat TGM kusam, tidak bergairah, seperti katak dalam tempurung. Ya, saya hanya menjalani saja. Sebisa saya. Kalau sekarang terlihat ada perubahan, kegairahan dan ada greget, itu saya sikapi sebagai proses. Saya menghargainya sebagai proses saja dan saya jalani. Saya tidak menilai hal-hal semacam itu, seperti yang disebutkan orang-orang.

Untuk teater ke depan, Mas Gati sendiri punya pikiran apa, Mas?

Ehm…Saya tidak punya angan-angan yang tinggi ya, jadi saya hanya menjalani apa yang ada di depan saya saat ini, dengan sungguh-sungguh. Itu saja. Tidak punya angan-angan sampai kapan saya di teater. Ya saya hadapi saja yang ada di depan mata. Saya bikin karya untuk menyindir diri sendiri, Tobong Kosong, Tobong Kobong. Kalau Ketoprak Lesung bubar, yo wis tak adhepi. Saya hadapi. Bubar ya bubar.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor di Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 01, Mei-Oktober 2006)